Pria ini Rela Kerja 100 Jam per Minggu Demi Bayar Utang Warisan Corona

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 17 Jun 2021 09:41 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Pandemi Covid-19 yang belum juga usai telah menekan perekonomian berbagai negara di dunia. Tidak sedikit warga yang terkena dampaknya secara signifikan.

Hal ini seperti yang dirasakan oleh Craig Meikle, pemilik bisnis pusat permainan anak dan sepak bola di Dalkeith, Midlothian.

Melansir dari BBC, Kamis (17/6/2021), area permainan anak milik Craig telah ditutup sejak Maret 2020 dan tanggal pembukaan kembali masih belum pasti. Padahal area bermain anak ini menyediakan dua pertiga dari pendapatan bisnisnya.

"Ketika pandemi berakhir, kebanyakan orang akan kembali normal, tetapi kita akan merasakan sakit selama bertahun-tahun yang akan datang," kata Craig Meikle kepada BBC.

"Ini akan menjadi perjuangan nyata," katanya.

Sebelum pandemi, pusat permainan tersebut berjalan dengan cukup baik. Craig dapat menghasilkan keuntungan bersih di atas £750,00 atau setara dengan Rp 15 juta (dengan kurs Rp 20.000/pundsterling) setiap tahun.

Namun karena adanya pembatasan selama masa pandemi, berarti mereka harus tutup dan seperti banyak pemilik usaha kecil lainnya, mencari bantuan keuangan. Keluarga Meikles telah menerima pinjaman dari pemerintah Skotlandia-Britania Raya, dengan total mencapai £100.000 atau sekitar Rp 2 miliar.

Craig mengatakan mereka juga berutang ribuan pound untuk biaya sewa.

"Kami berutang hingga £130.000 (sekitar Rp 2,6 miliar). Itu adalah percakapan yang masih harus saya lakukan dengan pemilik yang telah luar biasa dengan kami sejujurnya. Pada titik tertentu kami harus melakukan percakapan itu," jelasnya lagi.

Secara keseluruhan, pasangan ini memiliki tumpukan utang bisnis sebesar £250.000 atau sekitar Rp 5 miliar.

Untuk melunasi hutang tersebut, Craig mengatakan dia perlu bekerja lebih lama dan memotong jumlah pekerja yang mereka pekerjakan.

"Bisnis kami adalah bisnis yang dikelola keluarga dan kami harus memiliki lebih sedikit staf dan bekerja lebih banyak sendiri.

"Saya melakukan 60 jam seminggu, terkadang 80, jadi saya harus melakukan lebih dari 100 jam."

(eds/eds)