Susah Bayar Sewa Toko, Tukang Service Handphone Pindah ke Jalan

Siti Fatimah - detikFinance
Rabu, 14 Jul 2021 12:05 WIB
Jakarta -

Sejumlah teknisi perbaikan handphone di Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur menawarkan jasanya di pinggir jalan. Hal itu dilakukan sejak pemberlakuan PPKM Darurat.

Pantauan detikcom di lapangan, beberapa orang tampak menawarkan jasa service dengan menggunakan tulisan "Jual Beli HP, Service HP". Sesekali mereka berhenti memasang pamflet/spanduk dan hanya menawarkan ke perseorangan yang melintas di jalan.

Terlihat pula beberapa petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja bersiaga di lokasi. Tak nampak kerumunan hanya saja jalanan terlihat lebih ramai oleh lalu lalang pengendara.

Salah satu teknisi yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan, dari semenjak PPKM ia tak dapat menghasilkan omzet. Biasanya, penjualan dari jasa service handphone nya bisa sampai Rp 2 juta per hari sebelum pandemi.

Namun selama pandemi ini penghasilannya menurun drastis dan hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. "Saya service handphone udah 21 tahun dan ini kondisi terberat," ujarnya kepada detikcom, Rabu (14/7/2021).

Sulit Bayar Sewa Toko, Tukang Service Handphone Pindah ke JalanSulit Bayar Sewa Toko, Tukang Service Handphone Pindah ke Jalan Foto: Siti Fatimah

Lebih lanjut, tekanan biaya sewa dan listrik toko service-nya di mal PGC pun membuatnya harus melakukan service handphone di jalan. Dia mengatakan, untuk biaya sewa toko mencapai Rp11 juta dan listrik mencapai Rp4,8 juta.

"Orang kita nggak buka toko tapi disuruh bayar. (Kalau buka pun) yang datang jarang. Kita mau masuk ambil barang harus udah bayar listrik," ungkapnya.

Sulit Bayar Sewa Toko, Tukang Service Handphone Pindah ke JalanSulit Bayar Sewa Toko, Tukang Service Handphone Pindah ke Jalan Foto: Siti Fatimah

Belum lagi dengan tekanan denda jika telat membayar sewa kos yang mencapai 20% dari total biaya sewa per bulannya. "Berat, kalau saya bawa badan sendiri enak, ini kan ada anak istri nunggu di rumah. Rasanya gimana, anak nangis belum makan apa-apa. Kita begini juga karena ada tanggung jawab," imbuhnya.

Service yang dilakukannya pun terbilang sederhana seperti mengganti baterai handphone atau LCD. Harga yang dijajakan pun sekitar Rp 350 ribu-Rp 400 ribu. Jika di awal PSBB ia sempat membawa perlengkapan lainnya.

Namun di PSBB Darurat ini ia mengaku tak mendapatkan surat imbauan dari pengelola dan tak sempat mempersiapkan perlengkapan sewa.

"Modalnya kita Rp 350 ribu di tawar Rp 200 ribu. Ya kita nggak dapet. Jadi saya punya daftarnya, yang ada di sini diambil. Kita nggak bawa alat, waktu penutupan awal 3 bulan itu(PSBB) kita persiapan bawa-bawa in alat. Nah penutupan di tanggal 3 itu kita nggak dapat surat imbauan dari gedung, jadi kita nggak sempat bawa alat," tuturnya.

Di kondisi sulit ini, dia mengatakan tak mendapatkan bantuan dari pemerintah ataupun pihak manapun. Menurutnya, yang dilakukannya saat ini merupakan cara bertahan dari kondisi pandemi.

(eds/eds)