Dampak Banjir Besar di China: Korban Jiwa Sampai Pabrik Meledak

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 23 Jul 2021 19:00 WIB
People move through flood water after a heavy downpour in Zhengzhou city, central Chinas Henan province on Tuesday, July 20, 2021. Heavy flooding has hit central China following unusually heavy rains, with the subway system in the city of Zhengzhou inundated with rushing water and thousands of residents having to be relocated. (Chinatopix Via AP)
Banjir di China/Foto: AP/Stringer
Jakarta -

Banjir di China menimbulkan banyak kerusakan. Sejumlah wilayah di Henan dan Zhengzhou juga tertimpa bencana seperti tanah longsor, bendungan yang banjir, sungai yang meluap, hingga kereta bawah tanah yang terendam.

Kerugian akibat banjir disebut mencapai 1,22 miliar yuan atau US$ 190 juta atau setara dengan Rp 2,7 triliun (asumsi kurs Rp 14.497). Korban jiwa juga berjatuhan.

Misalnya 14 pekerja yang meninggal di proyek terowongan jalan tol. Para pekerja ini disebut tak bisa menyelamatkan diri saat air datang.

Kemudian di kereta bawah tanah, ada 500 orang yang terjebak dan 12 di antaranya meninggal dunia. Ketinggian air di kereta bawah tanah setinggi orang dewasa.

Ratusan orang yang terjebak berusaha menahan kepala mereka di atas agar tetap bisa bernapas. Banjir ini juga menutup jalan raya dan menyebabkan mobil dan bangunan terendam.

Tak hanya itu sebuah pabrik aluminium juga terdampak banjir. Pabrik itu meledak karena pembangkit listrik Dengfeng Power Group yang meledak dan ketika banjir terjadi arusnya masuk ke dalam pabrik dan menyebar ke larutan bersuhu tinggi. Tidak ada korban jiwa dalam insiden kecelakaan ini.

Badan Meteorologi Henan menyebut jika banjir di China disebabkan akibat curah hujan yang tinggi. Profesor Lee Kuan Yew School of Singapore, Eduardo Araral mengungkapkan pemerintah China harus melakukan evaluasi jika proyek infrastruktur turut mempengaruhi cuaca ekstrem saat ini yang berujung banjir di China.

"Pertama-tama pemerintah China harus sadar, jika proyek infrastruktur di masa lalu ini sangat rentan dengan peristiwa ini," kata dia dikutip dari Reuters, Jumat (23/7/2021).

Hal ini sama dengan yang terjadi di Jerman. Dia mengungkapkan perubahan iklim sangat mempengaruhi curah hujan.

Otoritas China memperingatkan cuaca ekstrem masih akan berlangsung ke depannya. Tingginya curah hujan beberapa hari ini disebut menjadi yang tertinggi selama 1.000 tahun.

Kota Zhengzhou berpenduduk 12 juta orang, adalah salah satu daerah yang paling parah dilanda banjir, dengan 12 orang tewas setelah terjebak berjam-jam di jalur kereta bawah tanah. Sementara di Henan dengan 99 juta penduduk, salah satu provinsi terpadat dan termiskin di China, dengan banyak lahan pertanian dan pabrik.



Simak Video "Banjir di China Tewaskan 302 Orang"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ara)