Tanijoy Respons Dugaan Gelapkan Dana Rp 4 M, Begini Kronologinya

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 28 Jul 2021 19:00 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

PT Tanijoy Agriteknologi Nusantara akhirnya muncul setelah diduga menggelapkan uang 400 investor (lender) senilai Rp 4 miliar. Startup investasi di bidang pertanian itu sempat viral di media sosial karena dicari-cari oleh para korban.

Manajemen Tanijoy mengakui bahwa perusahaan sedang mengalami kendala untuk mengeksekusi program sesuai proyeksi awal karena dampak pandemi COVID-19, namun berkomitmen permasalahan akan diselesaikan. Terkait pihaknya yang susah dihubungi, itu karena kurangnya sumber daya manusia (SDM) setelah ada pengurangan karyawan.

"Hal ini berdampak pada pengurangan karyawan yang menyebabkan mengapa kami tidak responsif pada pertanyaan pendana di beberapa sosial media (telegram, email, live chat, dan media sosial). Tapi kami masih menanggapi pertanyaan-pertanyaan melalui crisis centre dan juga masih aktif berkomunikasi dengan perwakilan pihak himpunan pendana yang langsung dilakukan oleh CEO Tanijoy," kata manajemen Tanijoy dalam keterangan tertulis yang dikutip detikcom, Rabu (28/7/2021).

Perusahaan menjelaskan setelah beroperasi pada 2017 lalu, kini Tanijoy memiliki Mitra Tani terdaftar sebanyak 756 orang. Dari 100% dana yang terkumpul, usaha tani yang berhasil dijalankan dan telah diterima oleh pendana sebesar 78,28%.

"Dalam hal ini, diketahui pula bahwasanya masih terdapat outstanding yang belum terbayarkan kepada pendana sebesar 21,72%, yang dengan segenap tenaga akan diselesaikan dengan sebaik-baiknya," ungkapnya.

Berikut ini kronologi dugaan penggelapan dana 400 investor Tanijoy yang mandek sejak 2020-2021:

4 September 2020

Diadakan virtual meeting antara investor dan pihak Tanijoy dengan topik Penarikan Dana Terhambat. Kala itu Tanijoy mengaku mengalami masalah besar, padahal proyek diakui oleh Nanda selaku CEO sudah selesai. Katanya dana hasil proyek masih ada di petani dan belum dikembalikan sepenuhnya kepada Tanijoy.

Keterlambatan ini disebutnya sudah terjadi sejak PSBB dimulai, adanya kendala soal komunikasi dengan petani, karena adanya pembatasan pemerintah tersebut.

Saat ditanya oleh salah satu lender, kapan keterlambatan itu akan selesai, Nanda menjawab akan diurutkan berdasarkan waktu para pendana menarik dana atau sesuai antreannya.

"Untuk penyelesaian ini akan bergantung pada kecepatan collection di petani. Collection ini sudah dilakukan selama dua bulan, hal ini butuh waktu bisa mendapatkan pencairan dana," kata Nanda.

20 Januari 2021

Tanijoy mengeluarkan surat pernyataan dan pengakuan atas nama Nanda selaku CEO bahwa pihaknya belum bisa memenuhi tanggung jawabnya. Hal ini soal pencairan dana soal proyek yang sebelumnya diumumkan sudah selesai.

Dalam surat tersebut diakui, seharusnya Desember 2020 pencairan bisa jalankan sesuai jadwal. Namun proses tersebut tersendat karena proses collection terhambat. Penyebabnya karena mitra yang tidak kooperatif menyelesaikan kewajibannya.

"Kami berkomitmen untuk lebih responsif dalam berkomunikasi dengan Anda semua melalui kanal informasi resmi (email support@tanijoy.id). Kami sangat menyadari bahwa kepercayaan pendanaan sangat mahal dan kami gagal menjaganya. Tapi di tengah kesulitan ini kami sangat bersyukur bahwa Tanijoy masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya," ujar Nanda.

15 April 2020

Nanda memberikan surat pernyataan lagi ke investor Tanijoy, terkait masalah yang masih sama yakni pencairan dana. Dalam surat ini Nanda menyampaikan permohonan maaf karena sulit dihubungi oleh investor.

Nanda mengaku bahwa perusahaannya tengah melakukan restrukturisasi yang berdampak pada pengurangan karyawan, sehingga hanya dua orang karyawan yang tersisa. Kemudian Nanda juga mengaku tengah mengalami kesulitan dana karena pendanaan hanya dari platform fee saja dan dalam satu tahun terakhir tidak ada proyek.

"Tanijoy mengalami kesulitan keuangan. Pendapatan utama Tanijoy saat ini adalah perdagangan komoditas pertanian dengan berperan sebagai perantara," kata dia.

7 Mei 2021

Tanijoy mengadakan sebuah virtual meeting dengan 72 orang lender yang topiknya Klarifikasi dan Komunikasi Kesepakatan Tanijoy dan Lender. Dalam meeting ini Nanda mengungkapkan permohonan maafnya lagi-lagi soal tidak responsif saat dihubungi investor.

Dalam kesempatan itu dia mengumumkan proyek yang sudah selesai senilai Rp 19 miliar dari 756 petani, dari total tersebut sebanyak Rp 14 miliar disebut telah diselesaikan, sisa Rp 5 miliar masih menjadi outstanding dan Rp 3,9 miliar menjadi withdrawal yang terhambat.

Selain itu diumumkan juga proyek yang belum selesai karena beberapa masalah, pertama gagal panen atau rugi, petani yang kurang responsif, dan SDM Tanijoy yang terbatas.

Pihaknya pun mengatakan akan melakukan mediasi untuk menyelesaikan dana yang belum kunjung cair, antara pendana, Tanijoy, dan petani, biaya dalam mediasi ini katanya akan ditanggung oleh Tanijoy, kecuali biaya penyelesaian hukum.

18-26 Juli 2021

Bulan ini, investor yang tergabung dalam Himpunan Lender Tanijoy menyiarkan dugaan bahwa Tanijoy telah membawa lari uang Rp 4 miliar milik investornya. Hal ini dilayangkan karena tidak ada kejelasan atas pencairan proyek yang sudah selesai.

Investor juga menduga laporan proyek selama 2020-2021 dimanipulasi, hingga projek yang disebutkan merupakan projek fiktif. Hal-hal tersebut dirilis dalam siaran pers Himpunan Lender Tanijoy.

(aid/das)