RI Butuh Teknologi untuk Genjot Perdagangan, Ini 3 Alasannya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 05 Sep 2021 11:46 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018). Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap jalan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk. Begini suasananya.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menyebut aktivitas perdagangan kini tak terlepas dari teknologi. Dengan teknologi, perdagangan dinilai bisa bergerak lebih cepat.

Jerry menyebutkan, pengaruh teknologi setidaknya ada tiga yaitu menciptakan produk-produk perdagangan digital baru, menciptakan mekanisme perdagangan baru dan ketiga memberikan fasilitasi atas pola mekanisme perdagangan lama.

Dalam kaitannya dengan hal ini, Jerry mencontohkan perihal uang kripto yang di Indonesia ditempatkan sebagai asset digital. Menurutnya, konsep kripto dan blockchain akan memberikan pengaruh luas dan intensif dalam berbagai sektor, bahkan dalam konteks ekonomi makro.

Pasalnya kripto akan mengubah pola-pola pengaturan ekonomi perdagangan lama dari berbasis otoritas negara menjadi otoritas pasar dan komunitas. Oleh karena itu, Pemerintah merasa perlu untuk memberikan perhatian lebih pada kripto sehingga otoritas dan ketahanan ekonomi negara bias terjamin.

"Prinsipnya kripto harus teratur dan terlembaga dan harus di bawah pengaturan negara. Jadi dinamika dan dampaknya bias dikelola dengan baik." kata Jerry dalam keterangannya, Minggu (5/9/2021)

Pengaruh teknologi kedua menurut Jerry adalah dalam membentuk mekanisme perdagangan baru. Contoh sederhananya adalah perdagangan online melalui berbagai platform. Dengan teknologi informasi, perdagangan bias dilakukan tanpa harus ada pertemuan pembeli dan penjual dalam suatu tempat.

Ini berdampak pada proses transaksi, pergudangan dan logistic serta pengiriman. Dalam masa pandemi, hal ini sangat berguna karena dianggap sebagai solusi keterbatasan interaksi yang harus dilakukan pada saat harus melakukan aktivitas ekonomi dan perdagangan.

Menurut data, perdagangan secara online meningkat pesat sepanjang pandemic covid-19. Menurut kajian penelitian yang dilakukan oleh United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), pada tahun 2020 perdagangan online sudah mencapai seperlima dari perdagangan retail di dunia. Ke depan, perdagangan online akan terus meningkat dan membentuk budaya baru dalam transaksi dan proses konsumsi masyarakat.

Ketiga, teknologi juga memberikan pengaruh dalam perdagangan dalam hal memberikan fasilitasi pola-pola interaksi dan transaksi yang dilakukan oleh perdagangan lama. Ini misalnya terjadi dalam hal pembayaran yang bisa dilakukan secara digital. Demikian pula dengan proses pengiriman dan pergudangan, sudah mulai difasilitasi pengaturan dan monitoringnya dengan teknologi informasi.

Indonesia menurut Jerry harus mengoptimalkan manfaat teknologi pada ketiga segmen tersebut. Ini penting agar perdagangan Indonesia bisa berlangsung secara efisien dan berdaya saing serta menciptakan peluang-peluang baru.

"Jadi kita harus memaksimalkan dalam menciptakan produk digital baru maupun dalam hal mengoptimalkan pola perdagangan lama dengan teknologi. Dengan demikian sector perdagangan akan memberikan kontribusi dalam menciptakan ekonomi yang berdaya saing dan makin optimal manfaatnya bagi masyarakat." Tambah Jerry.



Simak Video "Ini Alasan Pemerintah Ingin Bentuk Bursa Untuk Kripto"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/zlf)