Menkes Buka-bukaan 'Strategi Kepepet' Pandemi Jadi Endemi

Aulia Damayanti - detikFinance
Sabtu, 18 Sep 2021 12:00 WIB
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin hadiri rapat kerja bersama Komisi IX DPR. Raker itu membahas pengeluaran pemerintah terkait belanja di sektor kesehatan
Foto: Rengga Sancaya: Menkes Budi Gunadi Sadikin
Jakarta -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap strategi mengendalikan COVID-19 dari pandemi menjadi endemi. Dia menuturkan salah satu caranya untuk menekan laju penularan. Namun untuk itu, ditegaskan vaksinasi bukan satu-satunya strategi.

"Ada empat, 3 itu sifatnya strategi, dan satu strategi kepepet mencakup keperawatan di rumah sakit itu kepepet yang penting di depan deteksi. Nah vaksinasi salah satu di antaranya bukan the only strategy," jelas dia dalam acara Wealth Wisdom 2021 secara virtual, Sabtu (18/9/2021).

Lebih lanjut, Budi mengatakan yang terpenting itu adalah penerapan 3 M, Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak. Kemudian deteksi dengan 3 T, Testing, Tracing dan Treatment.

"Contoh 3 M kalau kita pakai masker akan mengurangi laju penularan 95%. Kenapa sih kita harus Testing, Tracing dan Treatment, karena kita testnya cepat kita tahu siapa yang kena tracingnya cepat kita tahu siapa yang ditulari, kita isolasi cepat, mengurangi laju penularan," ujarnya.

Budi mengatakan vaksinasi juga penting untuk membuat antibodi manusia itu siap akan paparan virus. Jadi apabila terpapar mengurangi lamanya penyembuhan misal dari 14 hari hanya menjadi 5,4, atau 3 hari aja.

Lanjut Budi, untuk mengubah pandemi menjadi endemi itu bukan sesuai yang mudah. Dia mengungkap dalam sejarah pandemi tidak ada yang selesai dengan cepat.

"Umat manusia mengalami pandemi sudah sering. Saya lihat sejarahnya itu Black Death puluhan juta yang meninggal, kemudian dalam perang dunia ada Spanish Flu, lalu ada Polio, Cacar. Yang paling cepet 5 tahun, polio mungkin ratusan tahun dan masih ada sekarang belum selesai-selesai," katanya.

Jadi, yang paling penting dalam mengubah pandemi menjadi endemi dengan mengendalikan laju penularan.

"Intinya adalah setiap pandemi yang penting kita hambat, kita pelambat lagi penularannya sehingga any single time orang yg dirawat di rumah sakit itu selalu di bawah kapasitas rumah sakit," lanjutnya.

Budi memastikan COVID-19 tidak semematikan TBC dan HVI. Tetapi musuh dari COVID-19 ini penularan yang lebih cepat dari dua penyakit itu.

"Kemungkinan kalau kena (COVID-19) dan selama dia masih bisa ditampung di rumah sakit sembuhnya dari 100 yang kena virus , 80% sembuh sendiri, 20% masuk RS, 5% masih ICU, 2% kematian, itu lebih kecil dari fatality ratenya TBC dan HIV," tutupnya.

(hns/hns)