Evergrande China Gagal Bayar, Sri Mulyani Was-was

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 23 Sep 2021 09:44 WIB
Evergrande
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Raksasa properti China, Evergrande, mengalami gagal bayar. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati waspadai imbasnya ke Indonesia.

Selain itu, varian Delta COVID-19 juga menjadi ancaman yang nyata untuk perekonomian di seluruh dunia. Imbas yang paling terasa adalah pemulihan ekonomi negara-negara di dunia menjadi tidak merata.

"Di sisi downside risk-nya sebetulnya ini belum balik varian Delta masih harus kita perhatikan, mutasi virusnya juga masih akan terjadi dan pemulihan ekonomi yang tidak merata, inflasi di berbagai negara menimbulkan komplikasi," kata Sri Mulyani dalam konpers APBN Kita, Kamis (23/9/2021).

"Isu risiko stabilitas sektor keuangan terutama di RRT itu menjadi perhatian pada minggu-minggu ini yaitu terjadinya gagal bayar dari satu perusahaan konstruksi real estate yang sangat besar yaitu Evergrande," tambahnya.

Sri Mulyani mengakui bahwa pihaknya saat ini fokus memantau perkembangan dari perekonomian Tiongkok, terutama imbas dari gagal bayarnya Evergrande.

"Jadi kita juga harus melihat dengan mewaspadai apa yang terjadi di dalam perekonomian Tiongkok dengan adanya fenomena gagal bayar dari perusahaan Evergrande ini," ucapnya.

Meski demikian, Sri Mulyani melihat ada secercah optimisme bagi Indonesia untuk memulihkan ekonominya. Salah satu faktornya adalah jumlah vaksinasi yang sudah cukup tinggi.

"Indonesia masuk ke dalam ranking ke-7 dengan jumlah total vaksinasi 129 di mana untuk yang suntikan pertama adalah 82,1 juta dan untuk yang suntikan kedua 46,5 juta. Kalau kita lihat juga ada booster untuk tenaga kesehatan ini juga untuk melindungi mereka dalam situasi yang memang masih sangat tidak pasti," ujarnya.

Indonesia termasuk negara yang sudah menembus 100 juta vaksinasi meski bukan negara yang bisa memproduksi vaksin. Indonesia bisa punya akses mendapatkan vaksin sudah termasuk salah satu hal yang patut disyukuri.

"Vaksinasi yang tinggi memberikan optimisme terhadap kemampuan untuk melakukan aktivitas ekonomi dengan risiko terjadinya penularan atau terjadi hospitalisasi dari COVID atau bahkan bisa mengancam kematian," katanya.

"Harga komoditas masih menunjukkan tren yang baik dan ini termasuk berbagai komoditas yang merupakan produksi Utama Indonesia seperti batubara, nikel, dan CPO. Jadi kita lihat pertumbuhan ekonomi global diharapkan akan positif," lanjutnya.



Simak Video "Sri Mulyani Waswas Realisasi Vaksinasi Masih Jauh dari Target"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)