Sektor Logistik Melesat 40% saat Pandemi, Tapi Masih Ada Sederet Masalah Ini

Tim Detikcom - detikFinance
Minggu, 26 Sep 2021 12:17 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018). Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap jalan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk. Begini suasananya.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Industri logistik Indonesia berkembang di tengah pandemi. Pembatasan aktivitas masyarakat mendorong arus pengiriman barang meningkat drastis.

Data dari Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), mencatat arus pengiriman barang di Indonesia selama pandemi bertumbuh hingga 40%.

Meski tumbuh positif, sektor logistik juga masih banyak dihadapkan tantangan. Founder dan CEO Agros, Arman Solich mengatakan, sejumlah persoalan yang masih kerap dihadapi di sektor logistik di antaranya adalah rumitnya pengelolaan armada, transparansi dan standarisasi biaya. Hingga kebutuhan akan penyederhanaan sistem transaksi dan kemudahan pengawasan.

Selain itu, kerap juga ditemui persoalan shipper kesulitan menemukan armada untuk mengangkut barang, juga transporter yang sulit mencari muatan. Belum lagi menurutnya soal sistem pencatatan tagihan tidak transparan, administrasi surat jalan berantakan

"Ini merupakan sebagian kecil problem yang telah kami hadirkan solusinya dengan memanfaatkan teknologi informasi," ujar Arman dalam keterangannya, Minggu (26/9/2021).

Arman mengatakan, tumbuhnya potensi pertumbuhan sektor logistik diiringi banyaknya pemain baru yang masuk, membuat pihaknya melihat potensi bisnis untuk mengembangkan layanan satu pintu.

"Melihat potensi pertumbuhan industri logistik yang masih besar di masa mendatang dengan berbagai tantangannya, kami melahirkan AGROS untuk menjawab satu per satu tantangan yang ada. Kami menyediakan segala kebutuhan dari hulu ke hilir agar semua pihak dalam industri ini dapat menikmati benefitnya," ujarnya.

Dia mengatakan, berdasarkan pengamatan, sebagian besar problem masih muncul karena para pelaku industri ini masih bertahan menggunakan sistem konvensional dan tidak terintegrasi.

"Di AGROS, kami memandang setiap pihak yang terlibat dalam industri logistik ini sebagai kerabat yang seharusnya dapat saling memberikan manfaat satu sama lainnya," ujar Arman.

Terhitung sejak muncul di awal 2020, hingga saat ini, AGROS berhasil menyelesaikan sebanyak 102.306 transaksi logistik dengan total angkut mencapai 2.183.156 tonase.

"Langkah awal yang sudah kami mulai dengan menarget kawasan Indonesia Timur. Ke depannya, kami berharap dapat bekerjasama dengan lebih banyak lagi kerabat logistik di sini," imbuhnya.



Simak Video "Jokowi Soroti Biaya Logistik RI Lebih Mahal Dibanding Tetangga"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)