Apa yang Terjadi Kalau Pemerintahan AS Jadi Tutup Gegara Utang?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Minggu, 03 Okt 2021 14:00 WIB
The U.S. Capitol is seen between flags placed on the National Mall ahead of the inauguration of President-elect Joe Biden and Vice President-elect Kamala Harris, Monday, Jan. 18, 2021, in Washington.
Foto: AP/Alex Brandon
Jakarta -

Akibat alotnya pembahasan pengajuan rancangan undang-undang (RUU) penangguhan utang. Pemerintahan Amerika Serikat (AS) disebut bisa tutup sementara atau shutdown.

Meskipun akhirnya parlemen pada (30/9) menyetujui pengajuan tersebut dan tidak akan ada penutupan pemerintahan.

Shutdown ini bukanlah hal baru di pemerintahan AS. Hal ini pernah dilakukan di era presiden sebelumnya seperti Presiden Donald Trump, Barack Obama, Bill Clinton, Jimmy Carter dan Gerald Ford.

Sebenarnya apa sih yang terjadi jika pemerintahan AS ini sedang shutdown?

Dikutip dari The Economist jika shutdown sedang terjadi banyak departemen, lembaga atau Kementerian akan tutup. Namun untuk sektor kesehatan dan keamanan masih tetap beroperasi. Dilansir dari Reuters disebutkan jika kondisi 'terpaksa cuti' ini membuat para pegawai mengalami kesulitan.

Untuk lembaga non esensial seperti pekerja di taman nasional, museum hingga monumen bersejarah hingga petugas pelayanan paspor dan visa hingga layanan situs pemerintahan akan berhenti bekerja sementara.

Sementara itu untuk sektor esensial seperti penegak hukum hingga pengontrol lalu lintas udara tetap bertugas. Kemudian untuk para pegawai Gedung Putih, Kongres AS, Departemen Luar Negeri dan Pentagon atau Departemen Pertahanan.

Militer, penjaga perbatasan, pemadam kebakaran masih akan tetap bekerja tanpa digaji.

Jika saat ini shutdown terjadi maka akan ada ratusan ribu pekerja atau pegawai negeri sipil (PNS) yang dipaksa cuti di tengah krisis kesehatan yang sedang terjadi saat ini.

(kil/zlf)