Belajar dari Kasus Jouska, Ini Ciri-ciri Perusahaan Investasi Bodong

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 14 Okt 2021 09:10 WIB
Jakarta -

Ketua Satgas Waspada Investasi Indonesia, Tongam L. Tobing mengatakan saat ini banyak sekali modus investasi bodong. Katanya, hal itu terjadi di media sosial dan dia pastikan itulah investasi bodong.

"Terutama yang sekarang ini yang mengkhawatirkan ada di telegram. di mana di telegram banyak dimasukkan ke satu grup dan ribuan ada member di sana. Di Jasa Keuangan kalau penawaran melakukan di telegram, WhatsApp, langsung dipastikan ilegal karena jasa keuangan itu dilarang kalau melakukan persetujuan tidak secara langsung," katanya dalam acara d'Mentor detikcom.

Bahayanya tawaran investasi di media sosial juga mengatasnamakan perusahaan investasi yang resmi. Jadi diharapkan masyarakat harus mengecek legalitas perusahaan di website OJK.

"Edukasi mengenai legalitas perusahaan itu menjadi yang utama. supaya jangan ada yang dirugikan," jelasnya.

Sekjen Asosiasi Perencana Keuangan Indonesia (APERKEI) Faras Ghasan mengatakan ciri-ciri investasi bodong itu memiliki penawaran dengan hasil yang tinggi.

"Misalnya gini banyak yang bilangnya investasi saham, tetapi ternyata basicnya mata uang banyak yang belum tahu. Atau misalnya 2% seminggu atau 4% seminggu itu sebaiknya dihindari," ujarnya.

Kemudian, dia memastikan perusahan investasi bodong itu tidak punya kantor atau domisili yang jelas. "Karena kalau dia mau bisnis benar atau mau bisnis, sesungguhnya dia akan sangat representatif selama pelayanannya," lanjutnya.

Untuk itu, diingatkan pula nasabah yang akan melakukan investasi harus banyak belajar agar lebih memahami risiko dan lainnya.

"Budayakan membaca. Perusahaan sekuritas, aset manajemen, bank, asuransi juga berupaya untuk mengedukasi masyarakat di Indonesia. Itu bisa diklarifikasi melalui di website OJK, website asuransi jiwa Indonesia," tutupnya.

(fdl/fdl)