ADVERTISEMENT

Erick Thohir Mau Jual BUMN Kantong Kempes

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 02 Des 2021 06:45 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir bahas kasus Asuransi Jiwasraya bersama Komisi VI DPR. Erick buka-bukaan soal penyelesaian sengkarut PT Asuransi Jiwasraya (Persero).
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mendorong agar perusahaan pelat merah yang penghasilannya Rp 50 miliar ke bawah untuk dijual saja kepada swasta. Apa penjelasan Erick?

1. Jangan Bersaing dengan UMKM

Dia menginisiasi agar BUMN yang penghasilannya Rp 50 miliar ke bawah dijual saja. Dia tak mau perusahaan pelat merah yang pendapatannya kecil malah bersaing dengan pengusaha-pengusaha sekelas UMKM.

"Nah saya melihat juga kalau BUMN itu kecil-kecil buat apa? Akhirnya apa? Bersaing dengan swasta, bersaing dengan UMKM, bersaing dengan pengusaha daerah," katanya saat ditemui wartawan di Kementerian BUMN, Rabu (1/12/2021).

Sedangkan pembukaan lapangan kerja, dijelaskannya tidak bisa bergantung pada BUMN saja. Di dalamnya ada peran pengusaha swasta, khususnya UMKM. Sebab, UMKM adalah penyerap lapangan kerja terbesar dibandingkan industri. Dirinya ingin pengusaha-pengusaha kecil mendapatkan kesempatan untuk bertumbuh.

"Udah lah, suruh pengusaha muda, pengusaha daerah, jadi tumbuh entrepreneur-entrepreneur baru, pengusaha-pengusaha baru. Karena apa? Di era COVID ini yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, yang besar makin besar, yang kecil makin kecil. Jadi apa? ya ini, kalau ada (BUMN) yang kecil-kecil, revenue Rp 50 miliar udah lah," jelasnya.

2. Minta Dukungan Berbagai Pihak

Erick meminta dukungan berbagai regulator agar inisiasi untuk menjual badan usaha milik negara dapat diimplementasikan.

"Daripada BUMN jadi pesaing perusahaan menengah, ya kan buat apa? saya berinisiasi, kalau didukung oleh DPR, BPK, BPKP, Kejaksaan, yang di bawah Rp 50 miliar nggak usah BUMN lah," sambung Erick.

Jadi ke depannya yang ada adalah BUMN yang besar-besar, seperti perbankan, energi, telekomunikasi, hingga pertambangan.

"Kita main yang gede-gede, BRI, PLN, Pegadaian, Telkom, MIND ID, Pertamina. Gitu, tapi yang gede-gede ini harus jadi penyeimbang dan mengintervensi supaya terjadi keseimbangan. Kita tidak mau market kita dipakai pertumbuhan bangsa lain. Harus jadi pertumbuhan bangsa kita. Tidak anti asing. Sumber daya alam kita harus dipakai untuk pertumbuhan bangsa kita. Tidak anti investasi," tambahnya.

Tonton Video: Marahnya Ahok: Banyak Kontrak di BUMN yang Sangat Merugikan

[Gambas:Video 20detik]



(toy/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT