Ada KJA, Sektor Ekonomi Perikanan Danau Toba Tembus Rp 3,5 T

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 06 Des 2021 13:14 WIB
Siapapun tak akan berpaling dari keindahan yang ditawarkan oleh pesona Danau Toba salah satunya di Desa Meat yang tak kalah dari New Zealand.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Berkat dukungan pemerintah akan hadirnya sektor swasta di akhir tahun 90-an, budidaya ikan dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Toba, Sumatera Utara sukses memakmurkan masyarakat dengan membuka lapangan kerja di sektor perikanan dan jasa pendukung lainnya.

Penelitian Pusat Kajian Resolusi Konflik dan Pemberdayaan (CARE) IPB pada 2017-2021 menyebut, KJA menjadi usaha baru yang menjanjikan sebagai sumber pendapatan untuk masyarakat. Perlu diketahui, pada tahun 2020 nilai ekonomi Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Toba sebesar Rp3,5 triliun/tahun dan mendatangkan devisa USD78,44 juta.

Ketua Divisi Kemitraan CARE IPB, Dahri Tanjung mengatakan, Desa Haranggaol di Kabupaten Simalungun sebagai salah satu sentra KJA Toba menjadi desa termakmur se-Sumatera Utara. KJA mulai masuk di Haranggaol pada tahun 1990 saat aktivitas perdagangan turun. Penduduk awalnya mengandalkan perdagangan dan budidaya bawang merah sebagai sumber pencaharian. Karena budidaya bawang terkendala penyakit, mereka beralih ke budidaya KJA untuk lepas dari kemiskinan.

Pemerintah memperkenalkan KJA di kawasan Danau Toba sebagai usaha masyarakat seiring berkembangnya kegiatan KJA di Waduk Jatiluhur, Jawa Barat. Masyarakat mengadopsi dengan baik budidaya KJA di Haranggaol, Simalungun sehingga menyebar ke semua Kabupaten di Danau Toba, yaitu Dairi, Humbang Hasundutan, Toba, Karo, Samosir dan Tapanuli Utara.

Penelitian CARE IPB 2021 menyebutkan saat ini jumlah KJA masyarakat sebanyak 10.574 unit dan KJA perusahaan swasta 602 unit. Produksi ikan KJA Danau Toba pada 2020 mencapai 74.485 ton dengan rincian 32.992,4 KJA masyarakat dan 41.526,6 ton KJA swasta.

KJA Toba berefek ganda pada ekonomi daerah dan nasional lewat pembukaan dan perluasan lapangan kerja serta mendatangkan devisa bagi negara, kontribusi PDRB daerah dan konstribusi pajak. Setelah masuknya KJA perusahaan swasta yang berorientasi ekspor, maka usaha lain terkait seperti pembenihan ikan, kuliner, pengolahan, jasa dan transportasi, komunikasi, serta perdagangan lokal dan global semakin berkembang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2020 volume ekspor nila mencapai 12,29 ribu ton dengan nilai USD78,44 juta.

Merujuk Data Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Sumut 2020, nilai ekonomi KJA Toba sebesar Rp3,5 triliun setahun dengan serapan tenaga kerja 12.300-an orang. Nilai ekonomi itu meliputi benih Rp0,2 triliun, pakan Rp1,3 triliun, hasil produksi ikan Rp2 triliun. Nilai tersebut di luar distribusi logistik, komunikasi, kuliner ikan, dan usaha terkait lainnya.

"Perkembangan bisnisnya meningkat setiap tahun 10 persen - 15 persen. Di 2021 turun sedikit karena KJA dikurangi sekitar 500 unit," kata ujar Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Sumatera Utara, Satyagraha dalam keterangannya, Senin (6/12).