Kebutuhan Alat Medis Meningkat Kala Pandemi, Produsen Lokal Siap Pasok?

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 24 Des 2021 21:45 WIB
Infografis BNPB Masker
Foto: detikcom
Jakarta -

Pandemi COVID-19 masih belum dipastikan kapan berakhirnya. Apalagi mulai merebak varian baru omicron. Kebutuhan masker di dalam negeri pun otomatis masih akan besar.

Beberapa produsen dalam negeri pun kian menggenjot produksi masker. Namun salah satu isu krusial di industri alat kesehatan (alkes), dalam hal ini di industri masker adalah rendahnya Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

Meski demikian, produsen alat kesehatan, PT Medika Maesindo Global (MMG) menargetkan, pihaknya bakal mampu mencapai nilai TKDN hinggal 95%. Tahun ini saja, PT MMG telah mampu memenuhi nilai TKDN hingga lebih dari 50%.

"Kami adalah produsen end-to-end atau produsen hulu sekaligus hilir. Bahan-bahan kami fabrikasi sendiri. Ke depan, kami berharap akan mampu mencapai nilai TKDN hingga 95 %," tutur Direktur Business Development PT MMG, Mara Osca Herdiana dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/12/2021).

Osca mengatakan, dari sekian komponen pembuatan masker, hanya sebagian kecil saja yang masih mengambil dari luar negeri. Material tersebut adalah bijih plastik yang hingga saat ini masih impor.

"Sedangkan material lainnya merupakan produksi dalam negeri yang diproduksi sendiri oleh MMG, seperti bahan spunbond dan meltblown," lanjut Osca.

PT Medika Maesindo Global (MMG) adalah perusahaan yang memproduksi bahan baku masker dan APD untuk keperluan industri maupun medis. Pabrik yang mulai efektif beroperasi pada April 2021 ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 380 orang dengan 95 persennya merupakan tenaga kerja lokal.

"Kami pun berharap nantinya dapat menyerap jumlah tenaga kerja lokal lebih banyak lagi seiring dengan semakin bertambahnya kapasitas produksi," terang Osca.

Turunnya kasus aktif covid-19 maupun kasus harian selama 150 hari lebih sejak puncak kasus harian tertinggi pada 15 Juli 2021 lalu, tak pelak menjadikan tingkat disiplin dan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan 3M menurun. Padahal, Indonesia saat ini tengah bersiap menghadapi kemungkinan potensi gelombang ketiga dan potensi merebaknya varian omicron yang secara resmi telah diumumkan masuk tanah air beberapa waktu lalu.

Osca mengatakan, pihaknya prihatin atas hal tersebut. Apalagi, perang melawan covid-19 masih belum usai. Bahkan sejumlah negara di dunia, seperti Inggris dan Amerika Serikat tengah menghadapi masa-masa yang sulit karena tingginya angka positif kasus harian di negara mereka.

"Tentunya kita tidak mau apa yang terjadi pada pertengahan Juli lalu terjadi lagi di masa depan," ujar Osca.

Mengutip data dari Satgas Covid-19, sepanjang Oktober 2021 lalu, skor kepatuhan prokes konsisten di atas angka 8 (rentang skor 1-10). Kepatuhan memakai masker di angka 8,23, mencuci tangan 8,09 dan skor kepatuhan menjaga jarak 8,03.

Namun, selama November lalu skornya turun di angka 7,86 (masker), 7,85 (jaga jarak), dan 7,91 (cuci tangan) dan tren penurunan tersebut terus berlanjut pada Desember. Sejak 1 hingga 11 Desember 2021, skor kepatuhan memakai masker semakin anjlok menjadi 7,74, begitu pula untuk skor kepatuhan menjaga jarak serta mencuci tangan.

Dashboard Monitoring Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19 juga menunjukkan selama periode 1 hingga 11 Desember 2021, masih terdapat 59 kabupaten/kota yang kurang dari 75% penduduknya memakai masker. Sedangkan kabupaten/kota dimana kurang dari 75% penduduknya yang menerapkan jaga jarak mencapai 75 daerah.

"Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat sebaiknya terus dilakukan, karena kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini akan berakhir," katanya.

(das/dna)