Starbucks Resmi Keluar dari Rusia! Nasib 2.000 Pekerjanya Bagaimana?

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Selasa, 24 Mei 2022 09:00 WIB
wanita muslim besi starbucks
Foto: istimewa
Jakarta -

Setelah 15 tahun berdiri, Starbucks resmi keluar dari Rusia. Penangguhan dari negara tersebut di lakukan pada bulan Maret lalu.

Keluarnya Starbucks dari Rusia merupakan yang terbaru setelah perusahaan Barat lainnya juga keluar setelah perang di Ukraina. Starbucks bergabung dengan perusahaan seperti McDonald's dan Renault untuk keluar secara permanen dari negara itu.

Sekutu AS dan Barat menanggapi perang Rusia dan Ukraina tersebut dengan memberi Rusia sanksi ekonomi yang luas untuk mengisolasinya secara ekonomi dan memotongnya dari sistem keuangan global. Aturan mempersulit perusahaan Barat untuk beroperasi di sana.

Starbucks mulai memasuki Rusia pada tahun 2007 dan kini telah berkembang menjadi 130 kedai kopi, yang dimiliki dan dioperasikan oleh pemegang lisensi. Kini rantai pasokan kopi ke negara tersebut resmi ditutup.

Perusahaan ini tidak memberikan rincian dampak keuangan dari keputusannya itu, namun mereka mengatakan akan memberikan bantuan kepada para pekerjanya supaya mereka bisa beralih ke peluang baru di luar Starbucks. Mereka akan terus membayar hampir 2.000 staf yang bekerja di toko-tokonya di Rusia selama enam bulan.

Seorang juru bicara Starbucks mengatakan toko-toko akan tutup, dilansir dari BBC News, Selasa (24/05/2022).

Alshaya Group yang berbasis di Kuwait, yang memiliki dan mengoperasikan toko Starbucks, mengatakan bahwa keputusan untuk pergi adalah pengumuman yang dibuat oleh Starbucks dan merujuk pada pertanyaan ke rantai kopi. Tidak disebutkan apakah group tersebut akan berusaha untuk menjual tokonya atau membuka kembali dengan merek baru.

Pekan lalu, McDonald's mengumumkan bahwa mereka telah menjual hampir 850 restorannya di Rusia kepada pemegang lisensi saat ini, pengusaha Rusia Alexander Govor, yang diperkirakan akan mengubah citra restoran tersebut.

Awal bulan ini, pembuat mobil Prancis Renault juga mengatakan bisnisnya telah dinasionalisasi dan akan dijalankan oleh entitas pemerintah Rusia, yang mengatakan mereka berharap untuk menghidupkan kembali produksi di bawah merek mobil era Soviet.

Walikota Moskow bulan lalu memperkirakan bahwa sekitar 200.000 orang di satu kota itu saja berisiko kehilangan pekerjaan karena perusahaan-perusahaan Barat meninggalkan negara itu, dilansir dari BBC News.

Lihat juga Video: Tentara Rusia Divonis Penjara Seumur Hidup di Sidang Kejahatan Perang

[Gambas:Video 20detik]



(dna/dna)