ADVERTISEMENT

Pelabelan BPA Dinilai Bisa Beri Keuntungan bagi Dunia Usaha

Inkana Izatifiqa R Putri - detikFinance
Kamis, 23 Jun 2022 16:02 WIB
Ilustrasi kandungan BPA dalam botol minum plastik.
Foto: Shutterstock

Sebelumnya, Deputi Bidang Pengawasan Pangan BPOM, Rita Endang menyatakan rancangan regulasi pelabelan BPA sebatas menyasar produk galon guna ulang berbahan polikarbonat. Adapun jenis plastik ini dalam proses pembuatannya menggunakan bahan campuran BPA dan banyak digunakan sebagai material bangunan semisal atap garasi.

Rita menyampaikan sekitar 50 juta lebih warga Indonesia sehari-harinya mengonsumsi air kemasan bermerek. Dari total 21 miliar liter produksi industri air kemasan per tahunnya, 22% di antaranya beredar dalam bentuk galon guna ulang. Dari yang terakhir, 96,4% berupa galon berbahan plastik keras polikarbonat.

"Artinya 96,4% itu mengandung BPA. Hanya 3,6% yang PET (Polietilena tereftalat)," kata Rita.

"Inilah alasan kenapa BPOM memprioritaskan pelabelan risiko BPA pada galon guna ulang," imbuhnya.

Seperti diketahui, regulasi pelabelan risiko BPA kini memasuki fase pengesahan. Fase ini mencakup kewajiban bagi perusahaan galon bermerek yang menggunakan kemasan polikarbonat, untuk mencantumkan label peringatan 'Berpontensi Mengandung BPA' terhitung tiga tahun sejak pengesahan aturan.

Dalam sebuah sarasehan yang bertepatan dengan Hari Keamanan Pangan Sedunia pada 7 Juni, Kepala BPOM, Penny K. Lukito, menyebut pelabelan BPA merupakan hal penting sehingga publik mendapatkan haknya untuk mengetahui informasi produk yang mereka konsumsi.

"Pelabelan juga untuk mengantisipasi munculnya gugatan hukum terkait keamanan produk air kemasan yang tertuju pada pemerintah dan kalangan produsen di masa datang," katanya.

Menurut BPOM, penelitian dan riset mutakhir di berbagai negara, termasuk Indonesia, menunjukkan BPA dapat memicu perubahan sistem hormon tubuh dan memunculkan gangguan kesehatan. Hal ini termasuk kemandulan, penurunan jumlah dan kualitas sperma, feminisasi pada janin laki-laki, gangguan libido dan sulit ejakulasi.

Paparan BPA juga disebutkan dapat memicu gangguan penyakit tidak menular seperti diabetes dan obesitas, gangguan sistem kardiovaskular, gangguan ginjal kronis, kanker prostat dan kanker payudara. Sementara pada anak-anak, paparan BPA dapat memunculkan gangguan perkembangan kesehatan mental dan autisme.


(akn/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT