ADVERTISEMENT

Apresiasi & Catatan Syarief Hasan soal Kinerja Perekonomian Nasional

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Selasa, 16 Agu 2022 14:24 WIB
Syarief Hasan
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Demokrat Syarief Hasan mengapresiasi kinerja ekonomi pada kuartal II tahun 2022 yang tumbuh 5,44% secara tahunan (year on year), atau tumbuh 3,7% secara kuartalan. Namun, ia memberikan sejumlah catatan terhadap kinerja perekonomian nasional.

Syarief menyebut geliat perekonomian masih belum optimal, karena beberapa negara di kawasan Asean tumbuh lebih melesat. Ia mengulas Malaysia mampu mencatat pertumbuhan 9,8%, Vietnam 7,72%, dan Filipina 7,4%.

Jika dilihat dari sisi produksi, lanjut Syarief, tren pertumbuhan sektor utama penopang PDB, yakni industri, pertambangan, pertanian, dan perdagangan yang berkontribusi 56,59% PDB tidak mengalami pergerakan yang impresif. Sektor industri tumbuh 4,01%, pertambangan 4,01%, pertanian 1,37%, dan perdagangan 4,42%.

Syarief menggarisbawahi sektor industri yang merupakan penopang terbesar ekonomi, trennya terus mengalami penurunan. Pada kuartal I 2013, ulasnya, kontribusi sektor industri mampu menopang 21,57% PDB, terus menurun hingga 17,84% pada kuartal II 2022.

"Menurunnya kontribusi sektor industri menjadi tantangan penting bagi Indonesia yang memiliki angkatan kerja yang sangat banyak. Gejala deindustrialisasi ini dalam jangka panjang akan berdampak pada melemahnya daya beli, sehingga memicu pengangguran dan kemiskinan. Ini juga menjelaskan struktur ekonomi kita tidak padat karya, sebab sektor industri memang yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Jika ternyata pertumbuhan tidak sejalan dengan keterserapan tenaga kerja, kualitas pertumbuhan ekonomi jadi patut dipertanyakan," jelas Syarief dalam keterangannya, Selasa (16/8/2022).

Menteri Koperasi dan UKM di era Presiden SBY ini menjabarkan berdasarkan data BPS pada Februari 2022, sebanyak 81,33 juta jiwa atau 59,97% dari total tenaga kerja adalah pekerja informal. Jumlahnya meningkat dibandingkan Februari 2020 sebesar 56,64%. Sektor pertanian menyerap tenaga kerja informal terbanyak (1,86 juta), disusul industri (850 ribu), dan perdagangan (640 ribu) orang.

Menurut Syarief hal penurunan jumlah pekerja formal sebesar 6%, sementara pekerja informal naik 15,6% mesti jadi perhatian. Sebab, kata dia, pekerja informal sangat rentan dengan gejolak ekonomi serta tidak adanya kepastian dan jaminan keberlanjutan pekerjaan.

"Pada akhirnya membaca statistik secara makro tidak cukup menjawab persoalan aktual dan nyata yang terjadi. Jika ekonomi hanya tumbuh secara eksklusif, tanpa partisipasi dan kebermanfaatan bagi sebagian besar warganya, tentu kita perlu bersabar melakukan selebrasi dan euforia. Kita mengharapkan fundamental ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan, tidak mudah rapuh dihadang gejolak eksternal. Daya tahan ekonomi ini perlu ditopang oleh penguatan sektor industri, yang sayangnya semakin melemah," ujar Syarief.

(fhs/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT