×
Ad

Tarif Trump Nggak Ngaruh, Ekonomi India Tumbuh Tinggi 8,2%

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Sabtu, 29 Nov 2025 12:30 WIB
Ilustrasi/Rupee India/Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

Ekonomi India tumbuh 8,2% pada kuartal III-2025. Angka ini jauh lebih tinggi dari perkiraan, terutama setelah negara itu dikenakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump hingga 50%.

Pertumbuhan ekonomi India jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan realisasi kuartal II-2025 yang sebesar 7,8%. Angka yang sangat besar jika dibandingkan dengan pertumbuhan banyak negara sekarang ini.

Kenaikan tajam angka pertumbuhan ekonomi ini sebagian besar didorong oleh aktivitas manufaktur dan konstruksi, serta konsumsi domestik yang tetap tinggi. Lalu Jasa profesional keuangan dan real estat di India juga mempertahankan pertumbuhan yang stabil hingga 10,2% pada periode Juli-September, menjadi faktor pendorong lainnya.

Kepala ekonom di Axis Bank, Neelkanth Mishra, menjelaskan pertumbuhan ekonomi setinggi ini tidak datang begitu saja. Sebab India secara resmi dikenakan tarif hingga 50% untuk produk-produk ekspornya yang masuk ke AS dan sempat menurunkan ekspor yang cukup signifikan.

Namun untuk meredam dampak tarif Trump ini, India mengumumkan pengurangan pajak barang dan jasa besar-besaran, mulai efektif berlaku 22 September kemarin guna mendorong konsumsi domestik. Belum lagi sebelumnya pemerintah India juga sudah menurunkan pajak penghasilan individu.

Kombinasi dari dua keringanan pajak ini secara efektif langsung meningkatkan jumlah dana yang dapat dibelanjakan warga setempat. Hal ini terbukti dari peningkatan pembelian emas dan mobil hingga ke rekor tertinggi pada Oktober kemarin.

"Meski begitu, defisit perdagangan barang India mencapai rekor tertinggi baru akibat melemahnya ekspor dan tingginya impor emas," katanya dikutip dari CNBC, Sabtu (29/11/2025).

Secara terpisah, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam sebuah laporan terbaru memproyeksikan PDB riil India tumbuh 6,6% pada 2026, dan turun menjadi 6,2% pada 2027. Proyeksi ini dilakukan dengan asumsi penundaan yang berkepanjangan dalam kesepakatan perdagangan AS-India, yang secara langsung dapat menurunkan kemampuan ekspor Negeri Mahabharata itu.

Sebab dalam laporan yang sama, IMF juga memperkirakan ekspor barang dagangan India turun 5,8% pada tahun fiskal 2026 menjadi US$ 416 miliar, sementara impor barang diperkirakan naik 2,4% menjadi US$ 746 miliar.

"Meskipun terdapat hambatan eksternal, pertumbuhan diperkirakan akan tetap kuat, didukung oleh kondisi domestik yang kondusif," kata IMF dalam laporan tersebut.




(igo/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork