Krisis ekonomi dan mata uang di Iran yang menjadi pemicu demo besar-besaran sejak Desember 2025 lalu memasuki fase yang kian kritis. Tekanan inflasi alias kenaikan harga barang yang tinggi, disertai krisis kepercayaan terhadap mata uang domestik, membuat perekonomian negara kaya akan minyak itu di bawah tekanan berat.
Dampak paling nyata terlihat pada nilai tukar rial Iran yang jatuh sangat dalam dan semakin tertinggal dari berbagai mata uang dunia serta turunnya daya beli masyarakat.
Melansir situs berita El Pais, Kamis (15/1/2026), Menurut data statistik resmi, selama delapan tahun terakhir daya beli masyarakat Iran telah turun lebih dari 90%, sementara nilai tukar rial terhadap dolar AS di pasar terbuka telah naik sebesar 3.300% atau 33 kali lipat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan devaluasi mata uang yang sangat parah ini membuat satuan nilai informal toman mulai digunakan dalam konteks resmi untuk menghindari angka yang terlalu besar. Untuk diketahui satu toman setara dengan 10 rial.
Belum lagi, pengangguran kaum muda mencapai 19,7%, dan sebagian besar dari mereka yang memiliki pekerjaan berada dalam kondisi yang tidak aman alias rentan PHK. Akibatnya warga kelas menengah di negara itu telah terdorong ke bawah garis kemiskinan dan kehilangan prospek kemajuan.
Parahnya lagi, masyarakat di negara yang kaya akan minyak itu malah mengalami kenaikan harga bensin hingga 67%. Ditambah inflasi kronis yang secara resmi sekitar 50%, status sosial dan ekonomi sebagian besar penduduk kian terkikis.
"Masalah ekonomi saat ini adalah akibat kesalahan tata kelola internal selama bertahun-tahun, korupsi sistemik dan tak terkendali, hubungan luar negeri yang terbatas, dan sanksi internasional; faktor-faktor yang telah membawa ekonomi ke titik yang hampir tidak dapat dipulihkan, membuat kehidupan sehari-hari hampir mustahil," tulis El Pais dalam laporannya.
Saking parahnya kondisi ekonomi di negara itu, bahkan platform penjualan online kini menawarkan produk-produk pokok seperti minyak goreng dengan opsi pembayaran cicilan, sementara banyak rumah tangga telah mengurangi asupan protein mereka secara drastis.
Di mana menurut laporan Iran Wire, harga pasar sebotol minyak goreng cair berukuran 675 gram kini berharga sekitar 180.000 toman. Kemasan 4,5 kilogram telah naik menjadi lebih dari satu juta toman, sementara minyak semi-padat berukuran 5 kilogram dihargai sekitar 1,8 juta toman.
Harga-harga ini, ditambah dengan kekurangan pasokan, telah memicu keluhan konsumen yang meluas. Pada akhirnya tak sedikit warga mengatakan kepada media lokal bahwa minyak goreng saat ini sudah hilang dari daftar belanja harian mereka dalam beberapa hari terakhir.
"Minyak goreng menjadi mahal dan langka di Iran setelah pemerintah menerapkan kebijakan penghapusan nilai tukar bersubsidi dan beralih ke nilai tukar mata uang tunggal," tulis outlet media itu.
Tonton juga video "Trump Klaim Iran Sudah Berhenti Eksekusi Pedemo"
(igo/fdl)










































