RI Mau Genjot Investasi AI Buat Dorong Ekonomi, Begini Jurusnya

RI Mau Genjot Investasi AI Buat Dorong Ekonomi, Begini Jurusnya

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 23 Jan 2026 13:21 WIB
RI Mau Genjot Investasi AI Buat Dorong Ekonomi, Begini Jurusnya
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani/Foto: leongutierrez.mm@gmail.com/Leon Gutierrez
Jakarta -

Percepatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mendorong lonjakan kebutuhan komputasi dan investasi digital. Dalam hal ini, Indonesia menegaskan pertumbuhan teknologi perlu diseimbangkan dengan pemerataan kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani menjelaskan pertumbuhan kapasitas komputasi harus dipandang sebagai peluang sekaligus tantangan.

"Di Indonesia, AI bukan hanya bagian dari infrastruktur, tetapi juga pendorong pertumbuhan ekonomi di masa depan," papar Rosan dalam rangkaian acara World Economic Forum (WEF) melalui keterangan tertulis, Jumat (23/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut McKinsey Global Institute, penggunaan AI dapat meningkatkan produktivitas global hingga US$ 13 triliun per tahun pada 2030, sementara penggunaan energi untuk komputasi diproyeksikan meningkat dua kali lipat setiap 3-4 tahun jika tidak diiringi langkah efisiensi.

Menurut Rosan, Indonesia menyadari kedua sisi ini yang mencakup potensi ekonomi digital tinggi sekaligus kebutuhan tata kelola teknologi yang adil dan ramah lingkungan.

ADVERTISEMENT

"Sebagai bagian dari strategi investasi, kami terus memperbaiki iklim investasi dengan menyederhanakan kebijakan, aturan, dan regulasi. Kami berkomitmen pada kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan, karena kemitraan yang sehat akan menghasilkan kinerja dan nilai yang baik. Tidak hanya itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas utama. Ini menjadi tanggung jawab Indonesia untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja yang berkualitas," sebut Rosan.

Data Statista menunjukkan angka investasi global dalam infrastruktur AI (termasuk data center) diproyeksikan mencapai lebih dari US$ 500 miliar pada 2027, meningkat dari US$ 272 miliar pada 2023, yang mana lebih dari 80% pertumbuhan dalam empat tahun terakhir.

Indonesia menempatkan digital economy sebagai salah satu pilar strategis. Menurut laporan Google-Temasek-Bain e-Conomy SEA Report 2025, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$ 100 miliar pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata di atas 20%.

Proyeksi Boston Consulting Group (BCG) bahkan menempatkan Indonesia sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara dengan potensi mencapai US$ 340 miliar pada 2030, melampaui banyak negara di kawasan.

Rosan mengatakan, Indonesia mendorong pembiayaan inovatif (blended finance) untuk menjembatani kebutuhan modal besar di sektor teknologi tinggi dengan agenda iklim dan pengembangan kapasitas lokal.

Dengan dukungan kebijakan yang adaptif, Indonesia memperkuat kapasitas lokal melalui reformasi perizinan dan insentif investasi digital, termasuk Online Single Submission (OSS) yang terintegrasi serta pemberian tax allowance dan tax holiday bagi sektor strategis teknologi dan inovasi.

Simak juga Video 'Belajar dari Gegernya Dugaan Penipuan Trading Timothy Ronald, Kita Bisa Apa?':

(ily/hal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads