Banjir Ubah Petak Sawah di Jakarta Jadi Kolam Pemancingan Petani

Banjir Ubah Petak Sawah di Jakarta Jadi Kolam Pemancingan Petani

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 03 Feb 2026 07:15 WIB
Banjir Ubah Petak Sawah di Jakarta Jadi Kolam Pemancingan Petani
Banjir Ubah Petak Sawah di Jakarta Jadi Kolam Pemancingan Petani/Foto: Ignacio Geordy Oswaldo
Jakarta -

Di tengah padatnya pemukiman Jakarta, petak-petak persawahan masih bertahan di kawasan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara. Namun, cuaca yang tak menentu dan sawah yang terendam banjir memaksa sejumlah petani tak bisa bercocok tanam.

Berdasarkan pantauan detikcom di lokasi, Senin kemarin, hamparan sawah ini terletak di dekat saluran Banjir Kanal Timur (BKT). Hamparan sawah mulai terlihat dari samping tempat pemakaman umum (TPU) Rorotan, melewati RDF Plant Jakarta, hingga ke Kelurahan Marunda.

Banjir terlihat merendam sebagian area persawahan di pinggiran Kota Jakarta ini. Bahkan di salah satu sudut sawah yang berada tepat di sebelah rumah warga, dekat dengan Taman Sungai Kendal, sepetak sawah terlihat yang sudah berubah menjadi seperti danau kecil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terlihat di area itu hanya tersisa sedikit batang padi berwarna hijau, sementara sisanya sudah mati dan terendam air keruh imbas luapan saluran air dan tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir.

ADVERTISEMENT

"Kalau ini kan ditandurin (ditanam) juga tadinya, habis. Paling sisa segitu doang tuh, sepetak ini," kata seorang petani di Rorotan, Okip, sembari menunjuk lahan garapannya yang sudah terendam air, menyisakan sedikit padi.

Karena sawah garapannya terendam banjir, alih-alih bertani, ia malah asik memancing di petak sawah yang kini menjadi kolam itu. Dari pinggiran sawah, Okip menggunakan tiga alat pancing, berharap mendapatkan ikan saat mengisi waktu karena tak bisa menggarap sawah.

"Saya mancing di sini saja, daripada bengong, yang mau dijagain juga bingung, mau sawah juga nggak bisa banjir gini, paling dari pinggiran doang," ucapnya.

Menurut Okip setidaknya dengan memancing ia berpeluang mendapatkan ikan untuk kemudian dibawa pulang sebagai santapan alih-alih hanya berdiam diri karena tak bisa menggarap sawah.

"Ikan mujair juga ada, ikan betok ada, ikan gabus ada. Tuh baru dapat satu, lumayan (seukuran) empat jari," kata Okip.

Volume Air Masih Tinggi

Sementara itu, petani garapan lain bernama Kadir juga mengaku saat ini tak bisa mengolah lahan sawah tempatnya biasa bercocok tanam karena volume air yang masih tinggi imbas curah hujan beberapa minggu terakhir.

Untuk itu, saat ini dirinya tengah berupaya untuk meninggikan gundukan tanah di galengan atau yang lebih dikenal dengan pematang di antara petakan sawah. Dengan begitu genangan air di dalam petakan sawah dapat dipompa keluar pematang.

"Ini kan kita berhubung curah hujan tahun ini banyak, jadi galengan (pematang sawah) itu ditinggikan, biar nanti air itu disedot pakai pompa tuh. Baru nanti kita tanam kangkung saja sudah," terangnya.

"Memang rencananya di sini mau dibuang saja airnya, ntar dikuras lumpurnya. Ntar langsung tanam saja kangkung. Tapi kalau nggak diakalin begitu ya kita namanya petani, pendapatannya, pencariannya ada di situ, kalau nggak ditanam, habis, kan nggak nggak punya gaji," ucap Kadir.

Menurutnya menanam kangkung di petak-petak sawah ini merupakan satu-satunya cara untuk bisa bertahan di tengah curah hujan yang begitu tinggi. Sebab tanaman lain berpotensi rusak sebelum panen, termasuk padi yang membutuhkan waktu hingga beberapa bulan sebelum panen.

"Kalau cuaca begini rusak semua. Jadi enggak ada yang normal. Kalau tanaman macam bayam, sawi, melon busuk. Paling kangkung doang yang hidup," tuturnya.

Lihat juga Video Dampak Bencana Sumatera: 107 Ribu Ha Sawah Rusak-820 Ribu Ternak Mati

Halaman 2 dari 2
(fdl/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads