Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) menyinggung Indonesia yang masih mengimpor banyak komoditas pangan, salah satunya kedelai. Ia menyebut kebutuhan dalam negeri kedelai dipenuhi dari impor lebih dari 70%.
Padahal, salah satu makanan pokok masyarakat Indonesia berasal dari kedelai yakni tahu dan tempe. Titiek menyebut kondisi impor kedelai ini membuat Indonesia malu.
"Kita ini pemakan tempe tahu, tapi kedelainya impor lebih dari 70%, kedelainya impor. Ini harus kita genjot mungkin dari TNI Angkatan Darat kita harus mulai Pak untuk nanam kedelai ini. Kita pemakan tempe ini bahan bakunya harus impor, ini malu kita ya," kata dia dalam Panen Fest 2026, di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia meminta pemerintah agar cepat melakukan perubahan agar kedelai tidak lagi impor. Titiek mengatakan, diharapkan tahun depan kedelai bisa swasembada, seperti beras dan jagung.
"Jadi, kemarin sudah swasembada beras dan jagung pada akhir tahun kemarin. Nah, ke depan kita harapkan untuk swasembada gula, garam, kedelai, bawang putih, aneka bawang-bawang itu yang semua impor-impor, jadi tidak ada lagi impor-impor bahan-bahan pangan ini," jelasnya.
Untuk meningkatkan produksi dalam negeri, Titiek berharap dapat menggunakan bibit dari dalam negeri. Jadi, demi mencapai cita-cita swasembada pangan, Titiek menyebut tetap harus melibatkan banyak akademisi.
"Dan kita banyak akademisi-akademisi dari universitas-universitas yang bisa menemukan, sudah menemukan bibit kedelai yang bagus. Tidak perlu kita bibit pun impor, yang ada lokal saja yang karena sesuai dengan iklim daripada Indonesia ini," pungkasnya.
(ada/ara)










































