Ekonomi RI Tumbuh 5,11%, Pengusaha Harap Produktivitas Industri Digenjot

Ekonomi RI Tumbuh 5,11%, Pengusaha Harap Produktivitas Industri Digenjot

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Sabtu, 07 Feb 2026 17:30 WIB
Ekonomi RI Tumbuh 5,11%, Pengusaha Harap Produktivitas Industri Digenjot
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11%. Angka pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh sektor industri pengolahan yang berkontribusi hingga 19% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Sementara itu pada kuartal IV-2025 industri pengolahan/manufaktur Tanah Air tumbuh 5,40 % (y-o-y). Sementara Indeks Manufaktur-PMI Indonesia juga sudah menunjukkan level ekspansi sejak bulan Agustus 2025 dan mencapai 52,6 pada Januari 2026.

Kamar Dagang dan Industri Industri Indonesia (Kadin) berharap pemerintah terus mendorong peningkatan produktivitas industri nasional, melindungi investasi dalam negeri, dan menjaga pasar domestik dari serbuan produk dumping barang dan jasa bersifat predatory-pricing yang bisa melemahkan ekosistem produksi nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kadin berharap pemerintah juga memperhatikan pengusaha nasional dan melindungi investasi dalam negeri, termasuk mencegah persaingan tidak sehat dengan produk impor, jangan sampai pasar Indonesia dibanjiri dumping product barang dan jasa dari negara lain yang terlalu murah atau bersifat predatory-pricing," kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perencanaan Pembangunan Nasional (Bippenas), Bayu Priawan Djokosoetono dalam keterangan tertulis, Sabtu (7/2/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya peran serta pemerintah dalam menjaga industri dalam negeri ini sangatlah penting mengingat tingginya daya saing pengusaha Indonesia di pasar domestik. Hal ini terlihat dari pembentukan modal tetap bruto yang tumbuh 6,12% sepanjang kuartal IV-2025.

Bahkan sepanjang 2025 kemarin kontribusi Investasi PMDN lebih besar daripada PMA, bahkan PMDN tumbuh 26,6% (y-on-y). Sementara itu, pada sektor pertanian yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto juga berhasil tumbuh 5,14% pada Kuartal-IV 2025. Meski produktivitasnya tercatat masih rendah.

"Sekitar 28% tenaga kerja Indonesia bekerja di sektor Pertanian, kehutanan, dan perikanan, tetapi hanya menghasilkan nilai ekonomi sekitar 13% dari total PDB. Jadi produktifitas sektor pertanian hanya sekitar setengah dari rata-rata nasional Produktivitas PDB per pekerja Indonesia," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan pada kuartal IV ini sektor konstruksi yang kontribusinya hampir 10% terhadap perekonomian hanya tumbuh 3,81%, sejalan dengan belanja pemerintah yang hanya tumbuh 4,55% melemah dibandingkan kuartal-III 2025 yang tumbuh 5,66%.

Bayu mengatakan dari sisi pengeluaran (demand), perekonomian Indonesia masih tergantung pada konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 53,88%. Pada kuartal-IV 2025 konsumsi rumah tangga menguat tumbuh 5,11% berkat paket stimulus 8+4+5 dan liburan Nataru.

Menurutnya stimulus ekonomi 8+4+5 cukup berhasil, misalnya program magang fresh graduate yang disambut ratusan ribu pendaftar dan telah memfasilitasi lebih dari 80 ribu peserta pada kuartal IV-2025.

Begitu juga stimulus liburan Nataru juga sukses meningkatkan konsumsi masyarakat, Kadin berharap pemerintah melanjutkannya dengan paket stimulus 2026 untuk mendongkrak konsumsi pada bulan Ramadhan hingga Lebaran 2026

"Stimulus ekonomi 8+4+5 cukup berhasil, misalnya program magang fresh graduate yang disambut ratusan ribu pendaftar dan telah memfasilitasi lebih dari 80 ribu peserta pada kuartal IV-2025. Stimulus liburan Nataru juga sukses meningkatkan konsumsi masyarakat, Kadin berharap pemerintah melanjutkannya dengan paket stimulus 2026 untuk mendongkrak konsumsi pada bulan Ramadhan hingga Lebaran 2026," jelasnya.

(igo/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads