Maersk, perusahaan pelayaran peti kemas asal Denmark menghentikan pelayaran melalui Terusan Suez dan Selat Hormuz di kawasan Teluk dekat Iran. Langkah tersebut diambil atas alasan keselamatan.
Selat Hormuz sendiri ditutup oleh Garda Revolusi Iran pada Sabtu, menyusul serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Serangan tersebut menyebabkan pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas.
"Kami telah memutuskan untuk menghentikan sementara pelayaran Trans-Suez di masa mendatang melalui Selat Bab el-Mandeb untuk sementara waktu," kata Maersk dalam keterangannya dikutip dari France24, Senin (2/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Raksasa Peti Kemas PHK 1.000 Karyawan |
Penangguhan seluruh pelayaran kapal di Selat Hormuz dilakukan hingga pemberitahuan lebih lanjut. Maersk menegaskan bahwa keselamatan awak kapal, kapal, dan kargo pelanggan menjadi prioritas utama perusahaan.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan strategis yang dilalui hampir seperempat pasokan minyak dunia yang diangkut melalui laut, serta sejumlah besar kargo menuju dan dari pelabuhan-pelabuhan Teluk. Sementara Terusan Suez milik Mesir adalah jalur vital lain di kawasan tersebut, yang menghubungkan Laut Mediterania dengan Laut Merah, dan selama ini menjadi jalur pintas yang banyak diandalkan dari Eropa ke pelabuhan-pelabuhan Asia di Samudra Hindia.
Maersk akan mengalihkan rute kapal-kapalnya melalui Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika, yang menambah ribuan mil pada perjalanan. Perusahaan itu juga menyebut akan menutup kantornya di Uni Emirat Arab, Qatar, dan Oman.
Di sisi lain, media pemerintah di Oman, yang berada di sisi lain selat tersebut, melaporkan adanya serangan yang dilakukan pada hari Minggu terhadap salah satu kapal tanker. Sebanyak empat awak kapal dilaporkan terluka.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyebut ada sebuah kapal yang berada di lepas pantai Uni Emirat Arab dekat Selat Hormuz terkena proyektil tak dikenal yang menyebabkan kebakaran.
Kepala Organisasi Maritim Internasional, Arsenio Dominguez, meminta semua perusahaan pelayaran untuk menjalankan kewaspadaan maksimum. Perusahaan pelayaran juga diminta menghindari kawasan tersebut.
"Jika memungkinkan, kapal-kapal sebaiknya menghindari melintasi kawasan terdampak hingga kondisi membaik," tambahnya.
Sebelumnya pada Sabtu, Pemilik kapal Jerman Hapag-Lloyd, yang merupakan terbesar kelima di dunia, menyatakan menghentikan lalu lintas kapalnya melalui Selat Hormuz. Sementara perusahaan Prancis CMA CGM meminta kapal-kapalnya di kawasan Teluk untuk mencari perlindungan dan juga menangguhkan pelayaran melalui Terusan Suez.
(ily/ara)










































