Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadi inflasi sebesar 0,68% secara bulanan (month to month) pada Februari 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 109,75 pada Januari 2026 menjadi 110,50 pada Februari 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan secara tahun kalender (year to date) inflasi tercatat sebesar 0,53%.
"Pada Februari 2026 terjadi inflasi sebesar 0,68% secara bulanan atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 109,75 pada Januari 2026, menjadi 110,50 pada Februari 2026," kata Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyumbang inflasi bulanan terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi 1,54% dengan andil 0,45%.
Adapun komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok tersebut terutama daging ayam ras dengan andil 0,09%, cabai rawit 0,08%, ikan segar 0,05%, cabai merah 0,04%, serta tomat, beras dan telur ayam ras masing-masing 0,02%.
Selain pangan, komoditas lain yang turut menyumbang inflasi adalah emas perhiasan dengan andil cukup besar yakni 0,19%. Tarif angkutan udara juga memberikan andil inflasi sebesar 0,02%.
Di sisi lain, masih terdapat komoditas yang menahan laju kenaikan harga. Bensin tercatat memberikan andil deflasi sebesar 0,005% pada Februari 2026.
Data ini menunjukkan tekanan harga pada Februari terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan, khususnya protein hewani dan komoditas hortikultura, di tengah dinamika harga komoditas lainnya.
Inflasi MTM menurut komponen
Komponen inti dan komponen bergejolak mengalami inflasi, sedangkan komponen harga yang diatur pemerintah mengalami deflasi. Inflasi yang terjadi pada Februari 2026 sebesar 0,68% utamanya didorong oleh inflasi pada kelompok komponen bergejolak.
Komponen harga bergejolak mengalami inflasi 2,50% atau memberikan andil inflasi terbesar yaitu 0,41%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah daging ayam ras, cabai rawit dan cabai merah.
Pada komponen inti mengalami inflasi 0,42% dengan andil inflasi 0,27%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti yaitu emas perhiasan, minyak goreng, mobil dan nasi dengan lauk.
Sedangkan untuk komponen harga diatur pemerintah mengalami deflasi 0,03%. Secara agregat komponen ini tidak memberikan andil karena mendekati 0%, namun demikian terdapat komoditas yang dominan memberikan andil deflasi terhadap komponen harga yang diatur pemerintah yaitu bensin.
(fdl/fdl)










































