Tradisi berkirim parsel untuk kerabat atau keluarga jelang Lebaran kerap menjadi simbol berbagi dan silaturahmi. Tradisi ini menjadi angin segar sekaligus waktu bagi para pedagang musiman di Pasar Kembang Cikini, Jakarta Pusat untuk mengumpulkan cuan yang hanya datang setahun sekali.
Salah satunya ada Lutfi, pedagang parsel di Cikini Gold Center (CGC) yang selama bulan Ramadan ikut membuka lapak tambahan di sudut jalan Pasar Kembang. Menurutnya keberadaan lapak tambahan ini menjadi sangat penting untuk menarik pelanggan yang datang.
"Memang sudah tradisinya sih, setiap tahun buka lapak di daerah Cikini. Di sini ada yang memang biasanya jualan parsel di CGC, banyak juga yang cuma jualan musiman. Memang di sini bukanya pas Puasa sampai sebelum Lebaran saja," kata Lutfi kepada detikcom, Senin (2/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan menurutnya omzet penjualan yang bisa didapat dari membuka lapak tambahan di pinggir Jalan Cikini Kramat itu bagai bumi dan langit jika dibandingkan dengan hanya membuka toko seperti normal CGC. Sebab mayoritas pembeli datang hanya sampai kawasan lapak-lapak musiman ini, tidak sampai ke dalam bangunan CGC.
"Buka di sini sama di dalam jauh bedanya. Kalau di sini bisa jual sepuluh, dua puluh, sampai lima puluhan parsel, di dalam paling cuma jual dua tiga lah. Makanya kalau pun keluar modal lebih buat buka lapak lagi, nggak masalah," terangnya.
Meski hanya lapak musiman, namun skala bisnis yang dijalankan Lutfi sangatlah besar. Bahkan jauh lebih besar dari skala usaha hariannya. Dengan nada penuh syukur, ia mengungkap kapasitas penjualannya yang bisa mencapai ratusan hingga ribuan parsel dari pesanan perusahaan.
"Kalau kantor tuh biasanya dari awal ramadan sudah datang nih, survei, beli satu dua parsel, nanti dia pesan lagi buat diambil seminggu sebelum Lebaran biasanya. Kalau kantor bisa pesan ratusan, kaya bank-bank, Polda gitu, polisi-polisi, anggota-anggota gitu banyak juga yang pesan ke sini," ucap Lutfi.
"Kadang bisa sampai ribuan juga pesanan, tapi kalau segitu biasanya bagi-bagi, bikin sama yang lain. Jadi semua merata sih di sini dapatnya, semua lapak kebagian lah. Kalau paling rekor yang penah dipegang sendiri bisa sampai 250 parsel," jelasnya lagi.
Tak hanya sekitar Jakarta, bahkan parsel Lebaran asal Cikini ini kerap dijual hingga ke luar kota. Menurutnya paling banyak datang dari Cianjur dengan jumlah pesanan yang bisa mencapai ribuan paket parsel, untuk kemudian dijual kembali di sana.
"Paling jauh kita bisa sampai ke Cianjur, ke Lampung. Tapi paling banyak ke Cianjur sih, itu bisa sampai ribuan, jadi bisa buat ramai-ramai. Itu mereka biasanya datang bawa truk sendiri buat ambil barang, nanti di sana dijual lagi kan," paparnya.
Harga parsel yang ditawarkan pun sangat variatif, menjangkau semua kalangan. Mulai dari paket berisi makanan dan minuman seharga Rp 200.000, hingga parsel berisi barang pecah belah mewah dan makanan ringan mencapai Rp 2 juta atau lebih.
"Kalau di sini yang paling murah ada dari Rp 200.000 yang isinya paling makanan sama minuman-minuman ringan saja, sampai Rp 1-2 juta juga ada yang isinya campur sama pecah belah. Yang mahal itu pecah belah sih, bisa sampai puluhan juta kalau mau," terangnya.
Berkat penjualan parsel Lebaran yang didapat dari pesanan dan pembeli harian di Pasar Kembang Cikini inilah, Lutfi mengaku bisa mendapatkan keuntungan hingga ratusan juta rupiah, meski ia tidak ingin merinci lebih jauh.
"Lebaran bisa dapat dua tiga kali dari modal sih. (Omzet ratusan juta) Alhamdulillah itu sampai sih, berkat Ramadan. (Rp 100-200 juta) Ada, tapi kan kita juga banyak ke karyawan jadi bertambah cuma buat Lebaran doang," ujar Lutfi.
"Ibaratnya ini jadi 'THR' lah buat kita. Itu juga buat modal usaha sampai setahun ke depan lagi kan. Kalau hari biasa kan jauh banget, jual parsel paling cuma laku satu dua, kalau sehari-hari sepi kan," pungkasnya.
(igo/fdl)










































