Rahasia Pedagang Cikini: Parsel Tak Laku Dibongkar dan Dijual Eceran

Rahasia Pedagang Cikini: Parsel Tak Laku Dibongkar dan Dijual Eceran

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 02 Mar 2026 15:13 WIB
Parcel Cikini
Foto: Ignacio Geordy Oswaldo
Jakarta -

Tumpukan parsel Lebaran memadati kawasan Pasar Kembang Cikini, Jakarta Pusat. Di lapak-lapak musiman pinggir Jl. Cikini Kramat ini, berbagai jenis parsel yang berisi kue, makanan dan minuman ringan, hingga produk pecah belah dijajakan para pedagang jelang hari raya.

Salah satunya ada Lutfi, pedagang parsel di Cikini Gold Center (CGC) yang selama bulan Ramadan ikut membuka lapak tambahan di sudut jalan Pasar Kembang. Menurutnya khusus selama bulan suci Ramadan, lapak musiman yang disewanya itu bisa memberi keuntungan hingga ratusan juta rupiah.

"Lebaran bisa dapat dua tiga kali dari modal sih. (Omzet ratusan juta) Alhamdulillah itu sampai sih, berkat Ramadan. (Rp 100-200 juta) Ada, tapi kan kita juga banyak ke karyawan jadi bertambah cuma buat Lebaran doang," ujar Lutfi kepada detikcom di lapak parselnya, Senin (2/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ibaratnya ini jadi 'THR' lah buat kita. Itu juga buat modal usaha sampai setahun ke depan lagi kan. Kalau hari biasa kan jauh banget, jual parsel paling cuma laku satu dua, kalau sehari-hari sepi kan," tambahnya.

Harga parsel yang ditawarkan pun sangat variatif, menjangkau semua kalangan. Mulai dari paket berisi makanan dan minuman seharga Rp 200.000, hingga parsel berisi barang pecah belah mewah dan makanan ringan mencapai Rp 2 juta atau lebih.

ADVERTISEMENT

"Kalau di sini yang paling murah ada dari Rp 200.000 yang isinya paling makanan sama minuman-minuman ringan saja, sampai Rp 1-2 juta juga ada yang isinya campur sama pecah belah. Yang mahal itu pecah belah sih, bisa sampai puluhan juta kalau mau," terangnya.

Kalaupun memang ada sisa parsel yang tak laku sampai lapak musiman itu tutup, produk yang saat ini tak laku itu bisa dimanfaatkan kembali untuk keperluan dagang di periode Hari Raya besar lainnya. Walaupun cara ini hanya berlaku untuk barang pecah belah.

Sementara bagi parsel yang berisi makanan dan minuman ringan akan dibongkar untuk kemudian dijual murah. Dengan begitu tidak ada sisa produk makanan yang berpotensi rusak atau kedaluwarsa karena tak kunjung laku.

"Kalau memang nggak laku bisa kita bongkar sih. Kalau yang pecah belah kan masih bisa kita simpan. Tapi kalau yang makanan biasanya kita obral lagi, jual murah gitu biar dia habis. Soalnya kalau makanan kan nggak mungkin kita jual lagi buat tahun depan misalnya, takut isinya rusak atau sudah expired. Nggak mau kita ambil risiko buat makanan," terang Lutfi.

Meski begitu, menurutnya hampir setiap Ramadan parsel-parsel yang dijajakannya ludes terjual. Sebab mayoritas pembelian berasal dari pesanan sehingga parsel yang dibuat sesuai dengan kebutuhan.

"Parsel kita bikin terus, dari sebulan sebelum Ramadan juga sudah kita bikin buat persiapan. Tapi penjualan kan banyak dari pesanan, jadi jarang nggak habis. Kalau pesanan kan dia sudah bayar DP (down payment/uang muka) minimal 50% kan, baru uang itu kita pakai buat modal bikin sesuai permintaan saja," ungkapnya.

"Kita kalau sudah H-7 Lebaran itu sudah nggak terima pesanan, jadi kalau ada yang datang untuk beli, bisa ambil dari yang ada saja, jatuhnya habiskan sisa barang lah," tutur Lutfi.

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads