Mendag Ungkap Nasib Ekspor RI di Tengah Perang AS-Israel Vs Iran

Mendag Ungkap Nasib Ekspor RI di Tengah Perang AS-Israel Vs Iran

Retno Ayuningrum - detikFinance
Senin, 02 Mar 2026 15:58 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso/Foto: Aulia Damayanti/detikcom
Jakarta -

Perang antara Israel-Amerika Serikat (AS) vs Iran memicu kekhawatiran terhadap perdagangan global, termasuk Indonesia. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan eskalasi konflik yang semakin memanas ini dapat berdampak pada kenaikan biaya ekspor.

Budi mengatakan kenaikan harga minyak mentah dunia akan membebani sektor manufaktur. Hal ini bisa mengerek biaya produksi dan barang di tingkat konsumen.

"Ketika misalnya harga minyak naik, bisa saja misalnya kita bisa impor ya, tetapi kan semua akan jadi naik juga ya. Ekspor kita juga pasti cost-nya menjadi naik," ujar Budi di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Budi menjelaskan sejauh ini konflik yang terjadi di Timur Tengah tersebut belum berdampak pada ekspor-impor Indonesia. Namun, jika perang ini terus berkelanjutan, Budi menilai tidak menutup kemungkinan semua negara juga terdampak, tidak hanya Indonesia.

ADVERTISEMENT

"Kalau sekarang kan memang kita belum tahu (ekspor impor)-nya, tapi kalau berkelanjutan kan ya tidak hanya Indonesia, tapi buat semua negara pasti akan kena dampaknya, itu pasti ya. Tapi ya mudah-mudahan cepat selesai dah, jadi nggak berlanjut," terangnya.

Pemerintah tetap mengantisipasi jika konflik tersebut berkepanjangan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya telah menyiapkan dua strategi utama.

Pertama, memperkuat konsumsi domestik dengan menjaga daya beli masyarakat. Kedua, mendorong ekspor ke wilayah-wilayah yang tidak terganggu oleh situasi di Timur Tengah.

Terkait kerja sama perdagangan dengan negara-negara Timur Tengah, Budi menegaskan semua agenda tetap berjalan sesuai jadwal, salah satunya kerja sama dengan Uni Emirat Arab (UEA) yang sudah masuk tahap implementasi. Begitu juga dengan proses perundingan dengan Gulf Cooperation Council (GCC), ia memastikan tidak ada penundaan akibat konflik yang terjadi.

"Kalau UAE kan udah selesai, udah implementasi. Kalau GCC kan tetap jalan, nggak ada rencana penundaan," jelasnya.

(rea/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads