Enam akun di platform prediksi Polymarket dilaporkan meraup sekitar US$ 1,2 juta atau Rp 20,16 miliar (kurs Rp 16.800/US$) setelah berhasil memenangkan taruhan Amerika Serikat menyerang Iran akhir Februari.
Temuan ini memicu kecurigaan adanya pihak yang diduga memiliki informasi orang dalam dan memanfaatkannya untuk meraup keuntungan dari peristiwa geopolitik.
Berdasarkan analisis perusahaan blockchain Bubblemaps SA, keenam akun tersebut baru dibuat bulan lalu dan hanya memasang taruhan terkait waktu serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Taruhan itu ditempatkan hanya beberapa jam sebelum bom pertama dijatuhkan di ibu kota Iran, Teheran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Yahoo Finance yang melansir Bloomberg, Rabu (4/3/2026) salah satu akun sempat salah menebak waktu serangan lebih awal. Namun, taruhan berikutnya senilai lebih dari US$ 26.000 bahwa Amerika Serikat akan menyerang pada Sabtu justru menghasilkan keuntungan lebih dari US$ 174.000.
Kasus ini menambah sorotan terhadap Polymarket, yang sebelumnya juga disorot setelah sebuah akun anonim meraih lebih dari US$ 400.000 dari taruhan terkait invasi pemerintahan Donald Trump ke Venezuela dan penggulingan Presiden NicolΓ‘s Maduro. Temuan tersebut memicu kemarahan sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat.
Senator dari Partai Demokrat Chris Murphy menilai praktik tersebut tidak masuk akal jika tetap dianggap legal. "Orang-orang di sekitar Trump mendapat keuntungan dari perang dan kematian. Saya akan segera mengajukan undang-undang untuk melarang ini," tulis Murphy dalam unggahan di media sosial.
Selain akun-akun yang mencurigakan tersebut, banyak pengguna lain juga ikut memasang taruhan terkait konflik Iran. Volume perdagangan pada satu kontrak yang memprediksi waktu serangan Amerika Serikat terhadap Iran bahkan melonjak hingga hampir US$ 90 juta.
CEO Bubblemaps Nicolas Vaiman mengatakan pasar prediksi memungkinkan orang bertaruh langsung pada peristiwa geopolitik, sehingga pihak yang memiliki informasi lebih awal berpotensi mendapatkan keuntungan jauh lebih besar.
Situasi ini semakin rumit karena Polymarket memungkinkan pengguna bertaruh secara anonim menggunakan mata uang kripto.
Dengan hanya memerlukan dompet kripto untuk bertransaksi, praktik perdagangan berbasis informasi orang dalam menjadi sulit dilacak.
(ily/hns)










































