Di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, berdiri sebuah pusat perniagaan emas legendaris, Cikini Gold Center. Etalase toko berjajar rapi, memamerkan berbagai jenis produk mulai dari perhiasan hingga kepingan emas batang.
Salah seorang penjaga toko perhiasan di Cikini Gold Center, Kamil, mengatakan mayoritas toko di kawasan melayani jual-beli emas baik berupa kalung, cincin, dan gelang hingga anting. Namun biasanya jenis perhiasan yang dilayani hanya yang memiliki kadar emas paling kecil 16 karat.
"Kalau di sini jual paling rendah 16 karat sih, rata-rata 16-17 karat. Di bawah itu biasanya nggak ada yang jual. Beli pun, misalnya ada orang jual ke toko, kita beli gitu ya, itu juga minimal 16 karat. Kalau di bawah itu nggak kita terima," ucapnya saat ditemui detikcom di lokasi, Sabtu (7/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana toko emas lainnya, sumber keuntungan utama toko yang dijaga Kamal berasal dari selisih harga jual dan harga beli kembali, serta ongkos pembuatan untuk perhiasan baru.
"Misal kita beli perhiasan gitu, kalau bentuknya bagus ya kita pajang buat dijual lagi. Pasti harga jual ya di atas harga kita beli, kecuali harga emas jatuh banget sampai per gramnya turun sekian. Untung bisa jadi lumayan kalau barangnya dibeli saat harga lagi naik, minimal harga emas pas jual sama beli lebih tinggi pas jual gitu," jelasnya.
Namun di luar itu, para pedagang bisa mencari keuntungan jual-beli perhiasan sepenuhnya dari perubahan harga emas. Di mana biasanya pedagang akan menyimpan perhiasan yang dibeli saat harga murah untuk kemudian dijual kembali toko-toko yang bisa melakukan peleburan.
Karena emas perhiasan ini dijual untuk dileburkan, biasanya perhitungan harga tidak menilai desain perhiasan, hanya gramasi dan tingkat kemurnian emasnya saja.
"Biasanya ya kita simpan dulu, nanti kalau harga emas per gram-nya sudah naik baru kita jual ke peleburan. Jadi ambil untung dari kenaikan harga emas," terang Kamil.
(acd/acd)










































