Pengusaha Happy Produksi Sawit RI Naik Jadi 56 Juta Ton

Pengusaha Happy Produksi Sawit RI Naik Jadi 56 Juta Ton

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 11 Mar 2026 13:26 WIB
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono
Foto: Ilyas Fadilah
Jakarta -

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan produksi sawit nasional pada 2025 mengalami peningkatan. Total produksi minyak sawit Indonesia, termasuk crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO), tercatat mencapai sekitar 56 juta ton.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, khusus produksi CPO sendiri tercatat mencapai 51 juta ton. Peningkatan produksi ini terutama didorong oleh program peremajaan atau replanting yang mulai memasuki masa produksi.

"Jadi kita bersyukur tahun 2025 ini ada kenaikan produksi dari CPO itu kira-kira 51 juta ton atau secara total, ini secara total produksi kita dengan PKO itu 56 juta. Nah kemudian saya sampaikan bahwa kenapa kok ini naik, karena memang akibat dari replanting-replanting perusahaan," kata Eddy usai pertemuan dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, ia menilai produksi sawit nasional sebenarnya masih bisa meningkat lebih tinggi. Hal ini bergantung pada kelancaran program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang saat ini dinilai berjalan stagnan.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, salah satu kendala utama datang dari petani yang enggan melakukan peremajaan karena khawatir kehilangan sumber pendapatan saat tanaman ditebang.

"Justru di sini kadang-kadang si petani itu enggan, contoh sekarang dengan harga TBS Rp 3.000 mereka tidak mau menebang tanamannya. Sehingga mereka sampaikan saya mau makan apa kalau saya tebang tanaman saya," ungkap Eddy.

Ia menilai perlu ada solusi agar petani tetap memiliki sumber penghasilan selama masa tunggu tanaman sawit baru hingga berproduksi. Saat ini, tanaman sawit baru umumnya sudah bisa menghasilkan dalam waktu sekitar 2,5 tahun.

Eddy mengatakan, salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan adalah dukungan jaminan penghidupan bagi petani, selain melalui skema tumpang sari selama masa replanting.

Pada kesempatan itu, ia menyampaikan peningkatan produksi sawit menjadi penting karena kebutuhan domestik terus meningkat, terutama untuk mendukung program biodiesel. Eddy melapor kepada Amran mengenai program peningkatan produktivitas sawit melalui introduksi serangga penyerbuk serta pengembangan sumber daya genetik yang berasal dari Afrika, termasuk Tanzania dan Zambia.

"Kita itu sudah berjalan program peningkatan produktivitas dengan melakukan introduksi serangga penyerbuk. Pertama ini dari Tanzania dan juga sumber daya genetik, itu kita juga dari Tanzania, sekarang yang sedang kita berjalan adalah dengan Zambia, ini sedang proses. Saya sampaikan bahwa ini sudah siap untuk dilepas, yang serangga penyerbuk termasuk sumber daya genetik," bebernya.

Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perkebunan sawit nasional. Rencananya, pelepasan serangga penyerbuk dan sumber daya genetik itu akan dilakukan oleh Amran setelah Lebaran atau sekitar April mendatang.

"Setelah lebaran, kita kira-kira April, kita akan lepas serangga penyerbuk dan juga sumber daya genetik," tutupnya.

Tonton juga video "Prabowo: Sawit Miracle Crop"

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads