Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan alasan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah kepemimpinannya sudah besar sejak awal tahun. Dalam dua bulan pertama, yakni Januari-Februari 2026, APBN sudah defisit Rp 135,7 triliun atau naik 342,4% dibanding kondisi periode yang sama tahun lalu.
Purbaya mengatakan kenaikan defisit itu disebabkan belanja negara yang didorong sejak awal tahun, berbeda dengan sebelumnya yang hanya terfokus di akhir tahun. Dengan demikian dampaknya terhadap perekonomian diharapkan lebih terasa.
"Ada yang bilang tahun lalu surplus, kenapa tahun ini defisit? Ya memang desain APBN kita defisit dan sekarang kita paksakan belanjanya lebih merata sepanjang tahun sehingga dampak belanja pemerintah dan lain-lain terhadap perekonomian lebih terasa," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (11/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana diketahui, defisit APBN berarti pendapatan negara lebih kecil dibanding jumlah pengeluaran atau belanja negara. Tercatat pendapatan negara sampai 28 Februari 2026 mencapai Rp 358 triliun atau tumbuh 12,8%, di sisi lain belanja negara juga naik hingga 41,9% atau terealisasi sebesar Rp 493,8 triliun.
Pendapatan negara yang terkumpul Rp 358 triliun berasal dari penerimaan pajak Rp 245,1 triliun (tumbuh 30,4%), kepabeanan dan cukai Rp 44,9 triliun (turun 14,7%), serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp 68 triliun (turun 11,4%).
Sementara itu, belanja negara yang mencapai Rp 493,8 triliun berasal dari belanja pemerintah pusat yakni Rp 346,1 triliun atau naik 63,7%, serta transfer ke daerah Rp 147,7 triliun atau naik 8,1%.
"Kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi untuk mendorong ekonomi, serta defisit yang tetap terkendali menunjukkan bahwa APBN terus berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional," ucap Purbaya.
(aid/fdl)










































