Rencana impor 105 ribu mobil pickup dari India dinilai berpotensi menghilangkan peluang penyerapan 20 ribu tenaga kerja di industri otomotif dalam negeri. Kekhawatiran ini disampaikan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal.
Said Iqbal menjelaskan, berdasarkan laporan dari buruh di PT Hino Motors Manufacturing Indonesia di Purwakarta, perusahaan tersebut tersebut memperoleh pesanan sekitar 11 ribu unit mobil pick-up untuk satu tahun produksi.
Menurutnya, pesanan tersebut berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Untuk memenuhi order tersebut perusahaan merekrut sekitar 400 pekerja baru di lini perakitan kendaraan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari 11.000 order yang sudah diterima oleh PT Hino di Purwakarta, PT Hino merekrut karyawan baru 400 orang. Jadi ada order, maka ada penyerapan tenaga kerja baru. Kan itu tujuan Pak Presiden Prabowo kan? Bukan malah impor. Itu baru di perakitan 400 orang ini yang direkrut. Belum turunannya, suku cadang, kan untuk memproduksi mobil nanti ada suku cadang," jelas Said Iqbal dalam konferensi pers virtual, Jumat (13/3/2026).
Tak hanya itu, jika dihitung secara keseluruhan pesanan 11 ribu unit kendaraan tersebut dapat membuka sekitar 2.800 lapangan kerja di berbagai sektor pendukung industri otomotif. Sebaliknya, apabila pemerintah memilih impor maka peluang kerja yang seharusnya tercipta berpotensi hilang.
Said Iqbal memperkirakan jika 105 ribu unit mobil pick-up diproduksi di dalam negeri berpotensi menyerap lebih dari 20 ribu orang. Lapangan kerja tersebut mencakup sektor perakitan kendaraan, produksi komponen, suku cadang, hingga layanan purna jual.
"Oleh karena itu, kami meminta, stop! Hentikan impor 105.000 mobil pick-up. Maksud saya 105.000 mobil pick-up dari India, stop! Karena kalau itu dilakukan di dalam negeri, dia ada penyerapan tenaga kerja lebih dari 20.000 di pabrikan otomotif dalam negeri. Kalau harganya sedikit mahal nggak apa-apa," tuturnya.
Said Iqbal kembali menegaskan apabila kendaraan tersebut diimpor dari pabrikan di India seperti Mahindra atau Tata dapat berdampak pada perekonomian nasional karena dana pembelian kendaraan akan mengalir ke luar negeri.
"Kalau diimpor dari India kan uang kita lari ke India. Rupiah jadi tertekan, apalagi dengan situasi dolar sekarang. Tapi kalau diproduksi dalam negeri, kan biaya modal tidak lari keluar, bahkan bisa menyerap tenaga kerja. Jadi kalau dihitung dari dampaknya, lebih menguntungkan. Jangan melihat harga yang murah saja. Kalau melihat harga murah itu berarti, Direktur utama Agrinas berarti pedagang mobil," tutupnya.
(acd/acd)










































