Pemerintah menyiapkan skenario menaikkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di atas 3%.
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan telah disusun 3 skenario kenaikan defisit mengacu pada lonjakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP), pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, hingga imbal hasil surat utang negara.
Pertama, harga ICP diperkirakan berada di sekitar US$ 86 per barel dengan nilai tukar rupiah sekitar Rp 17.000 per dolar AS. Dalam kondisi tersebut, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi dijaga di level 5,3% dan imbal hasil surat berharga negara sekitar 6,8%, maka defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18% terhadap PDB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini skenario pertama ICP-nya di US$ 86, kursnya di Rp 17 ribu, Pak. APBN kita kursnya Rp 16.500. Kemudian dengan growth kita pertahankan. Jadi ini yang kita pertahankan, growth di 5,3%. Surat berharga negaranya, angkanya lebih tinggi, Pak, 6,8%. Maka defisitnya adalah 3,18%," jelas Airlangga dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Kedua, skenario moderat. Harga minyak diperkirakan naik hingga US$ 97 per barel dengan nilai tukar rupiah sekitar Rp 17.300 per dolar AS. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi sedikit turun menjadi 5,2% dan imbal hasil surat utang naik menjadi 7,2%, maka defisit APBN diperkirakan melebar hingga 3,53% terhadap PDB.
"Kemudian kalau skenario moderat kedua dengan harga minyaknya US$ 97, kursnya Rp 17.300. Growth-nya di 5,2%. Surat berharga negaranya lebih tinggi lagi di 7,2%. Nah defisitnya itu mencapai 3,53%," terang Airlangga.
Ketiga, skenario terburuk. Harga minyak diperkirakan melonjak hingga US$ 115 per barel dengan nilai tukar rupiah melemah ke Rp 17.500 per dolar AS. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi tetap di kisaran 5,2% dan yield surat utang 7,2%, maka defisit APBN berpotensi meningkat hingga 4,06% terhadap PDB.
"Kemudian kalau skenario terburuk yang pesimis, itu dengan harga US$ 115, kurs rupiah kita Rp 17.500. Growth-nya 5.2%, surat per harganya 7,2%, defisitnya 4,06%," sebutnya.
Airlangga menambahkan, berdasarkan 3 skenario tersebut target defisit di bawah 3% akan sulit dipertahankan. Ia menyebut salah satu cara mempertahankan batas defisit tersebut adalah dengan pemangkasan belanja negara atau menurunkan target pertumbuhan ekonomi.
"Jadi artinya dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3% itu sulit kita pertahankan. Kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan, Pak Presiden. Nah ini beberapa skenario yang mungkin perlu kita rapatkan secara terbatas," tutur Airlangga.
(hns/hns)










































