Lintasan Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Sempat Padat, Apa Solusinya?

Lintasan Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Sempat Padat, Apa Solusinya?

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Jumat, 20 Mar 2026 11:00 WIB
Foto udara kepadatan kantong parkir Terminal Kargo Gilimanuk, Jembrana, Bali, Rabu (18/3/2026). Kepadatan terjadi menjelang penutupan sementara aktivitas penyeberangan Pelabuhan Gilimanuk-Ketapang pada 19 Maret 2026 pukul 05.00 WITA dalam rangka pera
Foto udara kepadatan kantong parkir Terminal Kargo Gilimanuk, Jembrana, Bali, Rabu (18/3/2026)./Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Jakarta -

Lintasan penyeberangan Pelabuhan Ketapang-Pelabuhan Gilimanuk belakangan menjadi sorotan karena kepadatan hingga macet panjang. Penambahan infrastruktur berupa dermaga dinilai jadi solusi.

Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menyoroti krusialnya lintasan penyeberangan Pelabuhan Ketapang-Pelabuhan Gilimanuk sebagai lintasan terpadat dan strategis nasional. Menurutnya, antrean panjang tidak bisa dianggap sepele karena bisa berdampak ke perekonomian.

Pada masa arus mudik dan libur lebaran, terdapat sektor yang perlu mendapat perhatian serius, yakni angkutan logistik. Apalagi lintasan ini juga menghubungkan Bali sebagai destinasi wisata andalan kelas dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Angkutan logistik selalu berdampingan dengan pertumbuhan pariwisata. Ketika pariwisata tumbuh, maka logistik juga pasti tumbuh. Ini membutuhkan antisipasi, sementara saat ini pertumbuhan jumlah trip kapal tidak meningkat karena adanya keterbatasan dermaga," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (20/3/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menegaskan, kondisi tersebut harus segera direspons melalui penambahan infrastruktur dermaga. Hal ini diharapkan bisa menambah kapasitas angkut penumpang.

"Ini sudah waktunya untuk segera membangun minimal dua unit dermaga, sehingga dermaga tersebut dapat menampung kapal-kapal yang saat ini masih menganggur, yang jumlahnya di atas 20 kapal. Dengan penambahan tersebut, kapal-kapal yang sebelumnya off atau tidak beroperasi, dapat dimanfaatkan untuk masuk ke dalam jadwal dan memperkuat kapasitas angkut, kurang lebih 30%. Hal ini menjadi langkah antisipasi jangka panjang, baik untuk pariwisata maupun penunjangnya, yaitu logistik," katanya.

Ia melanjutkan, logistik di wilayah pariwisata harus bisa tercukupi, sehingga harga barang tidak mengalami kenaikan akibat daripada kelangkaan.

"Saat ini, hambatan berupa kemacetan yang bisa mencapai lebih dari 10 jam pada angkutan logistik berpotensi menimbulkan inflasi yang cukup tinggi dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, distribusi logistik harus dilancarkan," ujarnya.

Ia mengatakan, di saat musim liburan, angkutan logistiknya juga harus mengimbangi, karena dengan peningkatan wilayah pasti kebutuhan logistiknya akan lebih besar dan harus diantisipasi.

"Jangan sampai wisatawan domestik dan internasional, mendapatkan kelangkaan barang di wilayah pariwisata. Wilayah Pariwisata harus di manjakan dengan kecukupan logistik, makanan dan minum selama arus mudik dan libur lebaran," katanya.

Ia menambahkan, untuk sementara waktu, operasional kapal dilakukan dengan pola nonjadwal sebagaimana ditargetkan oleh pemerintah. Proses tiba, bongkar muat, hingga keberangkatan harus dipercepat dan perlu ditetapkan target standar waktu sesuai dengan ukuran kapal. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan selama periode libur.

"Kebutuhan barang, khususnya makanan-minuman pasti akan sangat meningkat seiring pertumbuhan pariwisata yang berbarengan dengan momentum mudik dan libur Lebaran, sehingga distribusi logistik harus benar-benar harus diantisipasi, agar tidak terjadi kelangkaan," tuturnya.

(ara/ara)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads