Pengusaha Singapura Bakal Banjiri Investasi ke Batam

Pengusaha Singapura Bakal Banjiri Investasi ke Batam

Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 28 Mar 2026 19:40 WIB
Foto udara Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, Minggu (20/10/2024). Pemerintah resmi menetapkan KEK Pariwisata Batam seluas 24,07 hektare dengan rencana bisnis Retirement Village dan Clinic serta akomodasi penunjang
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, Foto: ANTARA FOTO/Teguh Prihatna
Jakarta -

Federasi Manufaktur Singapura atau Singapore Manufacturing Federation (SMF) mendorong lebih banyak perusahaan alat kesehatan dan elektronik memperluas usaha ke kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK), Provinsi Kepulauan Riau.

Hal ini seiring upaya Indonesia mengembangkan kawasan industri baru untuk mendukung sektor manufaktur serta meningkatkan konektivitas pelabuhan antara kedua negara.

Singapura selama ini menjadi salah satu investor asing terbesar di lokasi kawasan BBK, yang sejak 2023 tercatat sebagai investor asing terbesar di Batam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir Channel News Asia (CNA), Sabtu (28/3/2026), pada semester pertama tahun lalu, investasi dari Singapura mencapai S$ 617,3 juta atau Rp 8,08 triliun (kurs Rp 13.100). Jumlah tersebut setara 69% dari total penanaman modal asing di Batam.

Dalam seminar investasi kawasan pada Selasa (24 Maret), SMF mengingatkan produsen untuk mempertimbangkan sejumlah faktor sebelum berekspansi ke luar negeri.

ADVERTISEMENT

Wakil Presiden SMF Melvin Tan menyebut keandalan listrik berbeda di tiap wilayah, sehingga pelaku usaha perlu memahami keterbatasan serta kebutuhan energi sebelum memulai investasi.

Kawasan BBK berjarak sekitar 40 hingga 90 menit perjalanan feri dari Singapura. Wilayah ini merupakan bagian dari Kepulauan Riau dan termasuk dalam kerja sama ekonomi segitiga pertumbuhan Singapura-Johor-Riau yang diusulkan pada 1989 oleh mantan Wakil Perdana Menteri Singapura, Goh Chok Tong.

Inisiatif tersebut menggabungkan keunggulan Singapura dalam manajemen, teknologi, dan infrastruktur dengan tenaga kerja, lahan, serta sumber daya alam dari Johor dan Kepulauan Riau. Meski telah berkembang, konsep ini masih relevan hingga kini, terutama dengan hadirnya inisiatif baru seperti Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura.

Saat ini, kawasan BBK memiliki setidaknya lima kawasan ekonomi khusus yang berfokus pada industri seperti kesehatan, elektronik, dan penerbangan. Kawasan ini menawarkan insentif pajak, kemudahan perizinan, serta infrastruktur untuk menarik investor asing.

Perusahaan yang beroperasi di sana mencakup sektor manufaktur, logistik, teknologi informasi, hingga pusat data. Dalam kemitraan Singapura-BBK, diterapkan strategi "twinning", yakni kantor pusat dan fasilitas riset ditempatkan di Singapura, sementara manufaktur skala besar dan operasi digital ditempatkan di BBK karena biaya lahan, tenaga kerja, dan utilitas yang lebih efisien.

(ily/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads