Harga Avtur Melonjak, Pakar Wanti-wanti Dampak bagi Industri Logistik

Harga Avtur Melonjak, Pakar Wanti-wanti Dampak bagi Industri Logistik

Renaldi Saputra - detikFinance
Jumat, 03 Apr 2026 17:56 WIB
Ilustrasi jasa logistik
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Konflik Timur Tengah yang berkepanjangan memicu ketidakpastian ekonomi global, terutama di sektor transportasi. Gangguan pada rantai pasok energi turut mendorong kenaikan harga barang dan biaya operasional di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Denon Prawiraatmadja, mengonfirmasi bahwa lonjakan harga avtur saat ini berpotensi menimbulkan dampak serius.

"Seperti sudah kita perkirakan sebelumnya, harga avtur akan naik mengikuti harga di tingkat global karena imbas krisis geopolitik di Timur Tengah," ujar Denon, dalam keterangan tertulis, Jumat (3/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai gambaran, lonjakan harga bahan bakar penerbangan (avtur) mulai berlaku pada April 2026. Untuk periode 1-30 April, harga avtur domestik naik rata-rata hingga 70 persen, sementara untuk rute internasional meningkat hingga 80 persen, dengan variasi harga di masing-masing bandara.

ADVERTISEMENT

Pengamat transportasi dan logistik sekaligus pengajar di Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Djoko Setijowarno, memperingatkan dampak serupa terhadap industri logistik.

Menurutnya, jalur udara melalui pesawat kargo masih menjadi andalan distribusi barang di Indonesia yang berciri kepulauan. Berbagai jenis barang, mulai dari paket e-commerce, dokumen, barang berat, hingga kebutuhan logistik lainnya, sangat bergantung pada jaringan distribusi udara.

Kenaikan harga energi seperti avtur yang dirasakan industri penerbangan dikhawatirkan turut berdampak pada berbagai sektor, termasuk logistik. Djoko menilai, penyesuaian biaya kemungkinan diperlukan untuk memastikan industri logistik tetap berjalan lancar.

"Kenaikan harga avtur pada tahap awal bisa pastinya akan berdampak pada biaya logistik yang akan menyebabkan 'shock' di berbagai industri yang bergantung pada pengiriman udara," tutur Djoko.

Jika kondisi tersebut terjadi, dampak berantai berpotensi merambah ekosistem perdagangan digital, khususnya pada layanan logistik yang berperan krusial sebagai penghubung antara penjual dan pembeli.

Menurutnya, tekanan biaya pada sektor logistik akan mendorong pelaku industri melakukan berbagai penyesuaian agar operasional bisnis tetap berjalan secara berkelanjutan.

"Bentuk penyesuaian ini bisa beragam, salah satunya melalui kenaikan harga secara umum, kenaikan biaya kirim, hingga penyesuaian biaya layanan," ujarnya.

Meski demikian, kenaikan biaya bahan bakar bukan hal baru dalam industri logistik. Berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku usaha logistik, hingga asosiasi industri, masih memiliki ruang untuk berdiskusi guna mengkaji sejauh mana dampak kenaikan harga avtur terhadap biaya distribusi.




(anl/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads