Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewanti-wanti peningkatan inflasi yang terjadi imbas perang Timur Tengah. Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan inflasi dapat timbul karena jalur distribusi energi global yang terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.
Selat Hormuz ditutup langsung oleh Iran sebagai salah satu 'serangan' terhadap Amerika Serikat dan Israel. Selat tersebut menjadi salah satu tulang punggung logistik energi internasional.
Dian mengatakan kenaikan harga energi global dapat mendorong kenaikan harga bahan bakar dan biaya distribusi barang termasuk tentu saja bahan baku dan pangan. Pada akhirnya inflasi akan meningkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini tentu akan meningkatkan tekanan inflasi baik global maupun domestik," beber Dian dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan, Senin (6/4/2026).
Jika tekanan inflasi tersebut direspons dengan kebijakan moneter yang lebih ketat, Dian mengatakan pertumbuhan ekonomi dapat terdampak. Hal ini mengakibat menurunnya konsumsi masyarakat dan aktivitas produksi.
Dampak berikutnya adalah tekanan biaya hidup yang meningkat di tengah perlambatan permintaan akan menyebabkan keuntungan korporasi akan tertekan dan meningkatkan risiko secara keseluruhannya.
"Kenaikan harga energi dan tekanan inflasi ini dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi pada sektor usaha juga serta menurunkan profitabilitas perusahaan dan kemampuan membayar debitur serta daya beli masyarakat," beber Dian.
Selain itu juga tekanan terhadap daya beli juga dapat meningkatkan risiko kredit pada segmen UMKM dan konsumsi yang memiliki sensitifitas lebih tinggi terhadap perubahan kondisi ekonomi.
Dari sisi perbankan, dia bilang hal tersebut berpotensi meningkatkan potensi kenaikan kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Dalam kondisi tersebut bank juga akan cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, sehingga dapat mempengaruhi dinamika pertumbuhan kredit dalam waktu dekat.
Namun, Dian bilang di tengah berbagai risiko yang berasal dari dinamika global tersebut sebenarnya ketahanan perbankan Indonesia tergolong sangat kuat.
"Ini sudah pernah saya sampaikan di beberapa kesempatan dengan teman-teman media bahwa sebetulnya standar-standar keuangan kita itu kalau dibandingkan dengan international best practice sendiri sebetulnya kita jauh sekali di atas standar itu ya," papar Dian.
(acd/acd)










































