Sebagian Masyarakat Nggak Kuat Bayar Iuran, 50% Sampah Berakhir di Kali

Sebagian Masyarakat Nggak Kuat Bayar Iuran, 50% Sampah Berakhir di Kali

Heri Purnomo - detikFinance
Kamis, 09 Apr 2026 21:29 WIB
Sampah menumpuk di sungai di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta. Sampah ini dibuang oleh warga secara sembarangan.
Ilustrasi.Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Sekitar 50% sampah di Indonesia berakhir di kali atau sungai, dan jalan raya. Kondisi ini terjadi karena sebagian masyarakat tak kuat bayar iuran sampah.

Hal ini dilaporkan Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia Rohan Hafas mengacu hasil hasil penelitian yang dilakukan oleh World Bank, Kamis (9/4/2026).

"Sampah di Indonesia itu 50% ini World Bank ya, tidak ada Indonesia-nya sama sekali. 50% sampah di Indonesia lari di... ayo di mana? Di jalanan dan di kali. Based on surveinya World Bank," ujar Rohan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenapa? Hanya karena Rp 10.000 sampai dengan Rp 15.000 rupiah per rumah tangga tidak mampu membayar iuran bulanan ke tukang angkut sampah yang dikelola RT, RW atau Kelurahan. That's kehidupan yang bener, maksudnya fakta yang terjadi seperti itu. Jadi dia buang aja diem-diem di pinggir jalan, di kali, di ini. Itu sebabnya kita punya problem sampah," sambungnya.

Adapun iuran yang dikeluarkan warga tersebut digunakan untuk mengangkut sampah yang nantinya akan di bawa ke TPS. Kondisi ini dinilai kurang tepat karena membebani pemerintah daerah, terutama karena adanya biaya sewa lahan yang tinggi.

ADVERTISEMENT

Dengan kondisi itu, Rohan bilang pemerintah tengah mengebut proyek Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

"Konsep waste-to-energy, supaya orang buang sampah di tempatnya, artinya akan pasti diangkut, berarti yang angkut gratis dari rumah. Mulainya dari situ, itu dilakukan oleh Pemda. Pemda kenapa mau? Karena Pemda tidak lagi di-charge bayar sewa lahan tempat sampah yang Bantar Gebang itu, nggak di-charge lagi dia, yang mana lebih mahal bayar sewa daripada dia harus bayar ongkos ngangkut itu. Itu yang dibenahi itunya dulu," terang Rohan.

Proyek 'Sulap' Sampah Jadi Listrik

BPI Danantara menargetkan pembangunan sejumlah proyek Waste to Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) paling telatnya pada Juli 2026. Maksimal telatnya pada Juli 2026 pada Juni atau Juli 2026. Empat proyek tersebut akan berada di Bekasi, Denpasar, dan Bogor.

"Groundbreaking itu bisa dilakukan kapan saja dari April sampai bulan Juni. Cuma yang lebih penting adalah kapan ini mulai dibangun. Target kita ini mulai dibangun di akhir Juni, awal Juli paling telat," ungkap Director of Investments Danantara Investment Management, Fadli Rahman saat ditemui di Graha Mandiri, Jumat (6/3/2026).

Fadli mengatakan pada proses pembangunan proyek sulap sampah jadi listrik ini akan memakan waktu hingga 2 tahun. Namun untuk dua proyek pertama, di Bekasi dan Denpasar yang memang sudah memiliki mitra tersebut menyanggupi pembangunannya lebih cepat.

"Kebetulan keduanya memang komitmennya lebih cepat. Janjinya by 2027 akhir itu kita terbangun, sudah COD. Untuk di Bekasi di awal 2028," ungkapnya.

(hrp/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads