Setelah hampir satu abad hadir di Indonesia, tepatnya sejak tahun 1931, PT Sepatu Bata Tbk (BATA) terus berupaya menjaga relevansinya di tengah perubahan gaya hidup masyarakat.
Tahun ini menandai 95 tahun perjalanan Bata di pasar Indonesia, sebuah pencapaian yang tidak hanya bicara soal usia, tetapi juga tentang bagaimana sebuah merek bertahan mengikuti kebutuhan zaman.
Global CEO Bata Panos Mytaros mengatakan pihaknya tengah menyiapkan strategi baru agar tetap dekat dengan pasar. Terlebih, masyarakat saat ini mengalami pergeseran gaya hidup pasca pandemi COVID-19.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perubahan terbesar yang kami lihat adalah konsumen menjadi semakin kasual. Tren ini mulai terlihat sejak pandemi COVID-19 ketika orang tidak lagi rutin ke kantor, dan sampai sekarang kebiasaan itu terus berlanjut," ujar Panos, kepada detikcom, Kamis (9/4/2026).
Menurut Panos, saat ini konsumen sekarang tidak hanya mencari produk kasual, tetapi sesuatu yang lebih 'casual sporty' yang mendukung kenyamanan sehari-hari. Sebagai contoh yaitu sepatu yoga yang didesain seperti sepatu sneaker.
Re-ignite sebagai Strategi Pemasaran Baru Bata
Foto: Hana Nushratu |
Untuk menjawab perubahan tersebut, Bata meluncurkan strategi global bernama Re-ignite.
Strategi ini bukan untuk mengubah Bata menjadi brand baru, melainkan mengembalikan Bata ke posisi yang seharusnya yaitu relevan dengan kebutuhan konsumen.
"Bata baru saja meluncurkan strategi global yang kami sebut 'Re-ignite'. Ini bukan tentang menciptakan Bata yang sepenuhnya baru. Kami tidak perlu rebranding, tetapi mengembalikan Bata ke posisi yang seharusnya," kata Panos.
"Ini benar-benar strategi yang berorientasi pada produk. Saya percaya Bata telah mengabaikan produknya selama beberapa waktu," sambungnya.
Oleh karenanya, strategi ini berfokus pada penguatan brand, pembaruan produk, dan pengembangan bisnis. Panos menyebut strategi ini mengusung konsep 'unreasonably good shoes'.
"Mengapa 'unreasonably'? Karena sepatu kami berkualitas tinggi tetapi harganya sangat terjangkau. Sepatu kami bukan sepatu murahan dan berkualitas rendah, tetapi sepatu berkualitas baik, namun harganya sangat terjangkau," kata Panos.
"Yang terpenting, kami ingin tersedia untuk semua orang, di mana pun. Bata bukanlah merek elitis. Kami tidak hanya fokus pada konsumen premium, kami ingin menyediakan sepatu untuk semua orang, baik di desa maupun kota, untuk bekerja atau pakaian kasual," sambungnya.
Kenyamanan Kini Jadi Prioritas
Foto: Hana Nushratu |
Selain harga, faktor kenyamanan juga menjadi perhatian besar. Menurut Panos, konsumen saat ini tidak lagi ingin membeli sepatu yang hanya menarik secara tampilan.
Salah satu aspek yang diprioritaskan yaitu kenyamanan. Terkait model sepatu, Panos menekankan relevansi terhadap tren saat ini.
"Mengenai mode, saya tidak akan mengatakan itu adalah aspek terpenting bagi Bata. Yang penting adalah tetap relevan dengan tren terkini. Bata bukanlah pelopor tren dalam mode, tetapi kami harus tetap relevan," jelas Panos.
Optimistis Terhadap Pasar di Indonesia
Di samping itu, Bata memiliki nilai historis di mata masyarakat Indonesia. Banyak orang yang 'tumbuh besar' bersama Bata, khususnya melalui sepatu sekolah.
Namun, menurut Panos, nostalgia juga harus sejalan dengan relevansi. Artinya, masa depan brand tetap bergantung pada kemampuannya menjawab kebutuhan konsumen hari ini.
"Nostalgia itu penting, tetapi relevansi adalah masa depan," katanya.
Meski sempat menghadapi tantangan bisnis, Bata menegaskan Indonesia tetap menjadi pasar penting. Panos mengatakan Bata melakukan sejumlah ekspansi melalui penambahan toko offline, penguatan kanal digital, dan peningkatan penjualan.
Tak hanya fokus pada penjualan, Bata juga ingin memperbesar kontribusi manufaktur lokal. Untuk diketahui, Bata telah menutup pabrik di Purwakarta pada 2024 lalu. Namun, hal ini merupakan upaya Bata untuk mengembalikan kinerja bisnis yang mengalami penurunan selama beberapa tahun terakhir.
Saat ini, sekitar 50% sepatu Bata yang dijual di Indonesia diproduksi secara lokal, terutama di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Panos menargetkan angka tersebut bisa meningkat sehingga Indonesia bisa menjadi hub produksi untuk memasok produk Bata di negara lain.
"Target kami adalah meningkatkan angka tersebut. Kami juga bertujuan untuk memposisikan Indonesia sebagai negara manufaktur, yang berarti mengekspor sejumlah besar sepatu buatan Indonesia ke pasar Bata lainnya," tegas Panos.
"Jadi, meskipun kami telah menutup pabrik, pada akhirnya, kami akan memproduksi lebih banyak sepatu di Indonesia daripada sebelumnya," imbuhnya.
Melihat potensi pasar Indonesia, Panos optimistis Bata bisa kembali tumbuh agresif. Apalagi, Panos memiliki track record yang panjang di industri alas kaki dan pernah tinggal di Indonesia beberapa tahun yang lalu.
"Saya merasa sangat optimis dan sangat positif (mengenai pasar Bata di Indonesia). Saya pernah tinggal di Indonesia bertahun-tahun yang lalu, jadi saya mengenal negara ini dengan baik dan merasa memiliki ikatan yang kuat dengannya," kata Panos.
Bagi Panos, perjalanan 95 tahun Bata di Indonesia bukan hanya soal mempertahankan warisan merek, tetapi juga soal terus beradaptasi. Karena di tengah pasar yang berubah cepat, relevansi menjadi kunci utama agar tetap dipilih konsumen.
Bata sendiri memproduksi sub-brand alas kaki seperti Marie Claire, Comfit, Power, Bubblegummers, North Star, B-First, dan Weinbrenner. Perbedaan segmen pasar inilah yang membuat Bata masih relevan bagi masyarakat di Indonesia.
"Bagi saya, ini (Indonesia) adalah pasar yang sangat penting. Merupakan tanggung jawab Bata untuk melakukan pekerjaannya dengan benar agar dapat menjangkau lebih banyak konsumen," jelas Panos.
"Dan saya ingin melihat lebih banyak sepatu Bata yang dikenakan oleh orang Indonesia," pungkasnya.
(anl/ega)











































