Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengingatkan para pedagang, khususnya yang menjual produk Bulog seperti Minyakita dan beras SPHP, untuk menyediakan uang kembalian secara penuh kepada pembeli.
Rizal menegaskan memberi kembalian menggunakan permen atau bumbu tidak diperbolehkan. Menurutnya seluruh transaksi harus diselesaikan dengan uang agar tidak menimbulkan persoalan lain.
"Tidak boleh pakai permen ataupun pakai bumbu dan lain sebagainya, nggak boleh. Harus dengan uang supaya tidak ada yang dipermasalahkan," kata Rizal di Pasar Grogol, Jakarta Barat, Selasa (14/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, ia meminta pedagang menyiapkan uang receh sesuai nilai kembalian. Misalnya, jika masyarakat membeli Minyakita 1 liter dengan harga Rp 15.700 per liter, jika uang yang digunakan Rp 16.000 maka pedagang harus memberi kembalian Rp 300.
"Kami sudah mengimbau dan informasikan kepada para pengecer, khususnya pengecer Minyakita dan beras SPHP, produk-produk Bulog harus menyiapkan uang kembalian. Uang kembalian, uang receh maksudnya," sebut Rizal.
"Karena kan harga minyak kita itu kan Rp 15.700/liter, berarti kalau uangnya Rp 16.000, berarti kan harus kembalian Rp 300, nah itu harus ada Rp 300-nya. Atau kalau per 2 liter Rp 15.700 x 2, berarti Rp 31.400. Itu harus ada kembaliannya Rp 100, sehingga itu diwajibkan sebetulnya," sambung dia.
Selain itu, Bulog juga mendorong pedagang untuk menggunakan metode pembayaran digital seperti QRIS. Langkah ini dinilai dapat mempermudah transaksi sekaligus menghindari masalah kembalian. Ia menambahkan, pedagang yang belum menerapkan QRIS akan diingatkan, bahkan bisa ditegur.
"Ya, kebetulan kan kalau tidak salah sudah ada pakai QRIS, jadi sudah pakai QRIS sekarang. Nanti tolong informasikan semua supaya pakai QRIS. Kalau tidak nanti ditegur. Oke, jadi upayakan seluruh yang jualan harus pakai QRIS supaya lebih efektif, lebih efisien, dan tidak ada upaya-upaya yang aneh-aneh," tutup Rizal.
Tonton juga video "Ekspor 2.200 Ton Beras Bulog untuk Jemaah Haji Terancam Batal"
(ily/ara)










































