Himpunan Kawasan Industri (HKI) mengapresiasi langkah diplomasi Presiden Prabowo Subianto selama melakukan kunjungan kenegaraan luar negeri. Keberhasilan diplomasi ini berhasil menggalang investasi mulai dari Uni Emirat Arab (UEA), Amerika Serikat (AS), Jepang, hingga Republik Korea.
Akan tetapi, HKI mengingatkan tantangan pada tahap implementasi. Pemerintah dianggap perlu membentuk Tim Pengawalan dan Percepatan Investasi sebagai tindak lanjut dari berbagai komitmen investasi yang sudah disepakati.
"Presiden sudah bekerja luar biasa menjemput bola ke mancanegara, kami sangat apresiasi tinggi. Namun, kami di HKI dan Kadin mencermati bahwa di lapangan masih ditemukan sumbatan dan hambatan. Birokrasi yang berbelit, inkonsistensi regulasi pusat-daerah, serta kendala teknis lainnya seringkali membuat investor ragu untuk melakukan groundbreaking," ujar Ketua Umum HKI, Akhmad Ma'ruf Maulana, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Airlangga Pede Ekonomi Tahun Ini Tumbuh 5,3% |
Ia menegaskan, Tim Pengawalan dan Percepatan Investasi ini harus berfungsi sebagai unit reaksi cepat yang mampu membedah sumbatan investasi secara end-to-end. Ma'ruf mencontohkan, investor dari Jepang, Korea, dan AS dikenal sangat detail dan menjunjung tinggi kepastian hukum.
Kemudian jika sumbatan di lapangan tidak segera dibersihkan, Indonesia berisiko kehilangan momentum emas ini. Meski begitu, Ma'ruf optimis pemerintah tidak akan kehilangan momentum jika Tim Pengawalan dan Percepatan Investasi terbentuk.
"Kita tidak ingin komitmen besar ini hanya menjadi seremoni penandatanganan saja. Tim Pengawalan dan Percepatan Investasi ini harus memastikan setiap dolar yang dijanjikan benar-benar masuk ke kawasan industri dan memberikan dampak ekonomi nyata," tambahnya.
Ma'ruf menambahkan, Indonesia tetap berpeluang besar menjadi pusat produksi rantai pasok global. Namun ia menekankan, tidak boleh ada benturan kepentingan untuk mengoptimalkan potensi tersebut.
"Sudah saatnya kita bekerja keras menarik investasi sebesar-besarnya. Kami berharap kita dapat mengesampingkan sekat-sekat dan kepentingan politik agar Indonesia menjadi destinasi investasi global yang aman dan nyaman," pungkas Ma'ruf.
Tonton juga video "Rosan Optimistis Investasi Rp 497 T di Triwulan I 2026 Tercapai"
(acd/acd)










































