Genjot Produksi Tebu-Kopi, Kementan Bakal Tebar Bibit Unggul ke Petani Rp 5,5 T

Genjot Produksi Tebu-Kopi, Kementan Bakal Tebar Bibit Unggul ke Petani Rp 5,5 T

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 14 Apr 2026 17:05 WIB
Karyawan membawa anaknya memasuki pabrik usai kirab temanten tebu saat tradisi Cembrengan atau menyambut musim giling tebu di Pabrik Gula (PG) Mojo, Sragen, Jawa Tengah, Sabtu (19/4/2025). ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha.
Foto: ANTARA FOTO /MOHAMMAD AYUDHA
Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 5,5 triliun untuk menggenjot produktivitas komoditas perkebunan strategis seperti tebu, kelapa, kopi, hingga kakao. Dengan anggaran ini, pemerintah berencana menyiapkan bibit atau benih varietas taman unggulan.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, mengatakan anggaran program peningkatan produktivitas untuk komoditas strategis ini sudah disiapkan dalam rencana multitahun 2025-2027. Di mana untuk tahun 2025 lalu, pemerintah sudah merealisasikan belanja sebesar Rp 2,5 triliun.

Kemudian untuk sepanjang 2026 ini sudah dianggarkan Rp 5,5 triliun, dan pada 2027 mendatang akan dikucurkan dana sebesar Rp 1,9 triliun. Sehingga total anggaran yang dikeluarkan untuk program multitahun ini mencapai Rp 9,9 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada anggaran Rp 9,9 triliun yang terbagi dalam tiga tahun. Tahun lalu Rp 2,5 triliun, tahun ini Rp 5,5 triliun, baru sisanya tahun depan. Ini kita perbaiki, apakah itu kopi, apakah itu kelapa, apakah itu kakao, termasuk kira-kira tebu di dalamnya," kata Sudaryono saat ditemui usai rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (14/4/2026).

Menurutnya pengadaan bibit atau benih varietas taman unggulan ini menjadi sangat penting, sebab hanya dengan menggunakan bibit unggulan saja hasil produk pertanian bisa naik sekitar 20-30%. Kondisi ini berlaku untuk hampir semua komoditas unggulan seperti padi, jagung, tebu, bahkan hingga kepala sawit.

ADVERTISEMENT

"Kita ngomongin semua varitas tanaman itu memang bibit benih yang bagus itu udah pengaruhnya 20-30%. Jadi dengan perlakuan yang sama, asal benihnya bagus, mau padi, jagung, tebu, apapun itu asal benar, terstandar baik, termasuk kelapa sawit juga, maka produksinya itu bisa naik 20-30%," ujarnya.

"Kalau perlakuannya kan kurang lebih sama. Petani ini sudah mengerti kelola kopi, kelola kakao, kelola tebunya. Maka kan kita butuh betul-betul bibit yang terstandar, yang bagus," sambungnya.

Sebagai tambahan informasi, dalam situs resmi Kementerian Pertanian dilaporkan Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 9,95 triliun secara multiyears 2025-2027 untuk peningkatan produktivitas dan pengembangan komoditas strategis seperti tebu, kelapa, kopi, kakao, jambu mete, lada, dan pala dengan target kawasan seluas 870.890 hektare.

Pada tahun pertama pelaksanaan di 2025 kemarin, pengembangan difokuskan pada 131.834 hektare lahan di berbagai sentra perkebunan nasional. Dukungan pemerintah mencakup penyediaan benih unggul, pupuk organik, serta bantuan operasional pengolahan lahan dan penanaman.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menyebut langkah untuk meningkatkan produksi sejumlah komoditas strategis merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam hal hilirisasi sektor pertanian.

"Kementan mendorong pengembangan hilirisasi agar mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, serta memperkuat ekonomi nasional," jelas Roni dalam keterangan di situs resmi Kementan.

Simak juga Video 'Mendikdasmen Ubah Mindset Jadi Petani, Dorong Revitalisasi SMK':

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads