S&P 'Interogasi' Fiskal RI, Purbaya Janji Tekor APBN Tak Melebar

S&P 'Interogasi' Fiskal RI, Purbaya Janji Tekor APBN Tak Melebar

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 16 Apr 2026 12:09 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kanan) didampingi Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Robert Leonard Marbun (kiri), Deputi Bidang Perekonomian Kementerian Sekretariat Negara Satya Bhakti Parikesit (kedua kiri) dan Staf Ahli Bidang P
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa / Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengadakan pertemuan dengan lembaga pemeringkat global Standard & Poor's (S&P) di Washington DC, Amerika Serikat (AS) pada Selasa (14/4). Kesempatan itu dimanfaatkan untuk menekankan komitmen Indonesia dalam menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Mereka menanyakan cukup detail kondisi fiskal kita termasuk defisit tahun ini dan tahun lalu. Utamanya mereka ingin melihat apakah kita konsisten untuk menjaga defisit kita di bawah 3% dari PDB. Saya bilang kita konsisten dengan kebijakan itu," kata Purbaya dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (16/4/2026).

Purbaya menyebut defisit APBN 2026 yang sebelumnya diperkirakan akan melebar ke kisaran 2,9% karena kenaikan harga minyak, bahkan diperkirakan bisa turun sedikit ke kisaran 2,8% terhadap PDB. Meskipun angka itu masih lebih tinggi dari rancangan awal 2,68%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"(Defisit) 2,9% pada waktu kita laporan awal, tetapi di LKPP nanti kira-kira akan turun ke 2,8%. Saya sebutkan hal itu ke mereka, ada indikasi turun ke 2,8%. Jadi mereka amat positif dengan hasil seperti itu," tutur Purbaya.

ADVERTISEMENT

Purbaya menuturkan bahwa S&P turut mencermati perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya pada triwulan IV-2025 yang lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal tersebut yang menjadi salah satu alasan S&P memberikan peringkat kredit Indonesia tetap berada pada level investment grade, yakni BBB dengan outlook stabil.

"Indikator awal sekarang sepertinya mereka juga melihat semua aktivitas ekonomi sudah membaik. Itu mungkin alasan mereka memberi konfirmasi ke saya bahwa outlook peringkat kita tetap stabil," ujar Purbaya.

Meski begitu, lembaga pemeringkat tersebut memberikan catatan terkait rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan Indonesia yang berada di atas 15%. Purbaya memastikan hal itu akan terus dipantau dan diperbaiki.

"Saya bilang kita akan monitor terus dan memastikan keadaan ekonomi tetap baik dan fiskal akan kita jaga tidak memburuk. Kita akan perbaiki ke depan sesuai dengan kondisi perbaikan pengumpulan pajak dan cukai kita," imbuh Purbaya.

Tonton juga video "Menkeu Ingatkan Kementerian Jangan Belanja Ngawur: Gak akan Saya Bayar"

(aid/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads