Waspada Harga Pangan Naik-Kemarau Panjang, Kesiapan Stok Jadi Kunci

Waspada Harga Pangan Naik-Kemarau Panjang, Kesiapan Stok Jadi Kunci

Retno Ayuningrum - detikFinance
Jumat, 17 Apr 2026 10:27 WIB
Pasokan pangan ke Pasar Kramat Jati, Jakarta, mulai normal. Harga pangan di pasar tersebut pun terpantau mulai stabil.
Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Eko Wahyudi meminta pemerintah untuk terus menjaga stok dan eskalasi harga pangan nasional. Hal ini mengingat dinamika global dan perubahan iklim berpotensi mengganggu rantai pasok dan biaya produksi dalam negeri.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melaporkan harga pangan global naik 2,4% pada Maret tahun ini dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan global didorong oleh melonjaknya biaya energi akibat konflik di timur tengah.

"Kondisi ini dapat berdampak langsung pada biaya produksi barang tertentu bila pemerintah lambat mengantisipasi eskalasi harga," ujar Eko, Jumat (17/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eko mengapresiasi pemerintah yang telah berhasil menjaga stok pangan nasional khususnya beras, Seperti diketahui, stok beras dalam negeri mencapai 4,6 juta ton. Stok beras dinilai dapat memenuhi kebutuhan selama 11 bulan ke depan.

ADVERTISEMENT

"Ini merupakan capaian yang sangat luar biasa dan bersejarah. Padahal kita tahu bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja, di tengah konflik Timur Tengah yang bahkan semakin tak terarah, harga pangan dunia naik 2,4% dan eskalasi harga bisa sangat cepat berubah," tambah Eko.

Kendati begitu, Eko meminta pemerintah mengantisipasi musim kemarau yang diprediksi akan lebih panjang dari tahun sebelumnya. Ia mendorong agar pemerintah memetakan dan memitigasi lintas sektor pada daerah dan wilayah terdampak kekeringan dengan dukungan alat dan infrastruktur mulai dari program optimalisasi pengairan irigasi, rehabilitasi irigasi, embung, pemanfaatan air dangkal, air sumur dalam, air sumur dangkal, pompanisasi perpipaan dan irigasi perpipaan serta mengatur pola tanam dengan varietas tahan kekeringan.

Ia berharap, agar pemerintah intens memantau harga pangan, sehingga lonjakan harga bisa diintervensi melalui kebijakan dan program pemerintah. Salah satu komoditas pangan yang disoroti telur. Menurutnya, harga telur sempat mengalami penurunan harga sementara harga pakan terus naik. Hal tersebut tentu dapat merugikan peternak.

"Untuk menyiasati kerugian peternak ayam petelur akibat harga pakan yang tinggi dan harga jual rendah, maka BGN dapat memerintah SPPG sebagai unit pelaksana program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk menyerap produksi telur guna menstabilkan harga dan menguntungkan peternak setempat," jelasnya.

(rea/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads