Mentan: Ada Pihak Tidak Bahagia Kalau RI Swasembada Pangan

Mentan: Ada Pihak Tidak Bahagia Kalau RI Swasembada Pangan

Aulia Damayanti - detikFinance
Minggu, 19 Apr 2026 08:30 WIB
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman melayani wawancara khusus dengan detikcom di gedung Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (28/7/2025).
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman/Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan ada pihak yang tidak senang jika Indonesia mencapai swasembada pangan. Hal ini disampaikan setelah ditemukan penyelundupan sejumlah komoditas impor ilegal di Pontianak, Kalimantan Barat.

"Ada pihak-pihak yang tidak akan pernah bahagia kalau Indonesia swasembada pangan. Karena itu mereka terus mencari celah untuk merusak pasar dan melemahkan produksi dalam negeri," kata dia dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/4/2026).

Amran menegaskan, Indonesia saat ini telah mencapai swasembada bawang merah hingga cabai, sehingga masuknya produk ilegal jelas merusak harga pasar dan melemahkan petani dalam negeri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita sudah swasembada bawang merah. Tidak ada alasan barang ilegal masuk selain merusak harga petani," ujar .

ADVERTISEMENT

Untuk diketahui, Satgas Pangan Bareskrim Mabes Polri telah menggagalkan penyelundupan komoditas pangan ilegal 23,1 ton di Pontianak, Kalimantan Barat. Puluhan ton komoditas itu terdiri dari berbagai jenis bawang hingga cabai kering.

Menanggapi hal tersebut, Amran meminta agar pengusutan tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan. Dalam pengungkapan terbaru, aparat menyita bawang merah asal Thailand 2,1 ton, bawang putih asal China 9,1 ton, bawang bombai Belanda 7,9 ton, bawang bombai India 1,6 ton, serta cabai kering China 2,2 ton.

Amran mengatakan kasus di Pontianak hanyalah bagian dari praktik yang lebih besar dan berulang di berbagai wilayah Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, aparat telah menggagalkan penyelundupan pangan dalam skala besar, antara lain 133,5 ton bawang bombai ilegal di Semarang, 72 ton bawang bombai ilegal di Surabaya, 250 ton beras ilegal di Sabang, serta sekitar 1.000 ton beras ilegal di Tanjung Balai Karimun.

"Ini pola yang sama, berulang, dan terorganisir. Berulang kali kami sebut inilah mafia pangan. Skalanya sudah ratusan sampai ribuan ton. Artinya ada kekuatan besar di belakangnya," tegasnya.

Menurutnya, kondisi geografis Indonesia dengan garis pantai yang sangat panjang sering dimanfaatkan oleh jaringan penyelundup untuk memasukkan komoditas ilegal melalui jalur-jalur tidak resmi.

"Dengan garis pantai yang panjang, celah itu dimanfaatkan oleh oknum untuk memasukkan barang ilegal. Ini yang harus kita tutup bersama," tegasnya.

Kementerian Pertanian akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor bersama aparat penegak hukum untuk menutup celah masuknya pangan ilegal serta memastikan sistem distribusi berjalan sesuai aturan.

(ada/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads