Penjualan Ritel Melambung, Ekonomi RI Kuartal I-2026 Masih Tahan Banting

Penjualan Ritel Melambung, Ekonomi RI Kuartal I-2026 Masih Tahan Banting

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 01 Mei 2026 14:30 WIB
Belanja bulanan menjadi sebuah rutinitas yang kerap dilakukan oleh keluarga di Indonesia. Biasanya saat belanja bulanan, berbagai kebutuhan dibeli mulai dari sabun, beras, jajanan, dan lainnya.
Ilustrasi/Foto: adobestock
Jakarta -

Di tengah ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah, kinerja penjualan ritel Indonesia diperkirakan tumbuh positif pada kuartal I-2026. Hal ini tercermin dari pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) pada tiga bulan pertama tahun ini.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan IPR yang menjadi indikator kinerja penjualan eceran Tanah Air tumbuh 2,4% year-on-year (yoy) pada Maret 2026, yang ditopang oleh peningkatan penjualan pada mayoritas kelompok.

"Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan penjualan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi," jelas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (1/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angka pertumbuhan ini memang terlihat melambat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sebab pada Februari 2026, IPR secara tahunan tumbuh sebesar 6,5% (yoy). Angka ini tercatat lebih tinggi dibandingkan IPR Januari 2026 sebesar 5,7% (yoy).

ADVERTISEMENT

Jika dilihat bulanan, penjualan eceran pada Maret 2026 diprakirakan tumbuh sebesar 9,3% (mtm), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Februari 2026 sebesar 4,1% (mtm).

"Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja mayoritas kelompok, terutama Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Subkelompok Sandang sejalan dengan peningkatan permintaan rumah tangga selama periode perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 H," terangnya.

Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang yaitu Mei 2026, diprakirakan meningkat, sementara pada enam bulan yang akan datang yaitu Agustus 2026, diprakirakan relatif stabil.

Kondisi ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Mei 2026 sebesar 157,4, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH April 2026 sebesar 153,9 seiring kenaikan harga bahan baku. Sementara itu, IEH Agustus 2026 diprakirakan sebesar 157,2, relatif stabil dibandingkan dengan IEH pada Juli 2026 sebesar 157,1.

Ekonomi RI Awal Tahun Ini Masih Tahan Banting

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan konsumsi rumah tangga masih menunjukkan kinerja positif. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang tumbuh 4,86% pada kuartal I-2026, meningkat dibandingkan 2,77% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

"Kalau lihat kuartal I ini pertumbuhan indeks penjualan real itu lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal I tahun yang lalu 2025. Kalau secara rata-rata di tahun ini kuartal I indeks penjualan real 5%, tahun lalu itu 3%," kata Faisal kepada detikcom.

Meski konsumsi rumah tangga tumbuh, CORE menilai kualitasnya belum cukup kuat yang tercermin dari pertumbuhan konsumsi terkonsentrasi pada kebutuhan dasar sementara belanja non-esensial cenderung melemah. Kondisi ini menunjukkan banyak masyarakat Indonesia yang semakin selektif dalam berbelanja.

"Jadi, orang lebih selektif untuk membeli yang tidak esensial. Ini juga menunjukkan sebetulnya dari disposable income itu juga berarti terbatas, jadi ada ekspektasi bahwa atau ada gejala bahwa disposable income itu melemah," ujarnya.

Belum lagi, jika dilihat lebih rinci, pertumbuhan penjualan ritel pada Maret 2026 masih lebih rendah jika dibandingkan dengan angka Februari 2026. Padahal pada bulan Maret kemarin terdapat Hari Raya Lebaran yang seharusnya mendongkrak penjualan eceran untuk memenuhi lonjakan konsumsi masyarakat.

"Perlu diperhatikan di situ adalah bahwa trennya memang bagus secara umum tapi kalau melihat secara pergerakan secara bulanan itu lemah di bulan Maret. Jadi kelihatan sekali pelemahannya di bulan Maret dan ini tidak lepas juga dari kondisi perang." tutur Faisal.

"Bulan Maret walaupun sebetulnya ada Lebaran di situ tapi, ternyata tingkat konsumsi dan indeks penjualan riilnya lebih rendah dibandingkan bulan Februari. Jadi memang artinya kondisi global, kondisi perang itu sudah berdampak juga terhadap konsumsi walaupun sebetulnya tipis karena harga BBM bersubsidi masih ditahan, masih tidak naik, LPG bersubsidi juga di bulan Maret juga masih ditahan," jelasnya lagi.

Senada, Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad juga menilai ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 ini masih cukup resilien yang terlihat dari indeks penjualan riil (IPR) yang masih tumbuh positif. Namun ia menilai konsumsi rumah tangga yang tercermin dari pertumbuhan IPR ini masih terlalu rendah, terlebih mengingat Hari Raya Lebaran jatuh di bulan Maret yang seharusnya mendongkrak penjualan eceran dalam negeri.

"Penjualan riil itu Kalau misalnya katakanlah tembus di atas 4%, 5%, nah pertumbuhan ekonomi biasanya bisa di atas 5%. Tapi kalau hanya 2%, berarti ada gejala di bulan Ramadhan itu konsumsinya nggak benar-benar tinggi banget," ujarnya.

Menurutnya pelemahan ini disebabkan oleh perang di Timur Tengah yang membuat masyarakat khawatir akan kondisi ekonomi ke depan. Sehingga banyak masyarakat memilih untuk menahan berbelanja, membuat laju penjualan retail melambat.

"Kalau awal perang orang sudah signal nih bahwa situasi global juga pengaruh ke domestik. Dampaknya pasti orang sudah tahu akan ada kenaikan harga BBM dan sebagainya begitu, sehingga banyak masyarakat mengantisipasi itu untuk menahan pembelian," tutur Tauhid.

Dengan begitu, meski ekonomi Indonesia diperkirakan masih cukup resilien alias tahan banting pada awal tahun ini, namun kondisi ini tetap perlu menjadi perhatian ke depan. Terutama dalam menyikapi dampak perang Amerika Serikat (AS) dan Iran yang sudah berimbas pada kenaikan harga minyak dunia.

Halaman 2 dari 2
(igo/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads