Singgung Laporan JP Morgan & ADB, Purbaya Sebut Ketahanan Energi RI Nomor 2 Dunia

Singgung Laporan JP Morgan & ADB, Purbaya Sebut Ketahanan Energi RI Nomor 2 Dunia

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 05 Mei 2026 15:50 WIB
APBN Kita
Foto: Retno Ayuningrum
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut ketahanan energi Indonesia menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Ketahanan Indonesia terhadap krisis energi dinilai masuk urutan teratas berdasarkan kajian berbagai lembaga internasional.

Purbaya mengungkapkan, hasil analisis dari JP Morgan menempatkan Indonesia di posisi kedua sebagai negara dengan daya tahan paling kuat terhadap krisis energi global. Indonesia berada di atas negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Australia.

"Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi kita itu amat kuat itu nomor 2 tuh kalau sebelah kanan tuh ketahanan energi terhadap krisis energi global. Walau krisis global kita nomor 2 paling kuat dibanding negara-negara lain bahkan di atas Amerika, China, Australia dan lain-lain. Ini dari JP Morgan," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Purbaya juga mengungkapkan bahwa Asian Development Bank (ADB) memiliki hasil studi serupa. Namun, menurutnya, hasil tersebut tidak dipublikasikan secara luas karena dikhawatirkan dapat memicu ketidakstabilan di negara lain yang posisinya lebih rendah.

ADVERTISEMENT

"ADB juga melakukan hal yang sama, studi yang sama. Cuma mereka nggak bisa publish, karena kalau mereka publish nanti negara-negara yang di bawah goncang, jadi minta jangan di-publish. Tapi official ADB bilang sama saya kita di atas, mungkin di top dua juga," tambah Purbaya.

Dengan kondisi tersebut, Purbaya menyebut Indonesia cukup kuat menghadapi tekanan global. Meski tetap perlu kewaspadaan, Bendahara Negara menegaskan tidak ada alasan untuk khawatir berlebihan.

"Jadi di tengah krisis energi dan krisis global ini kita fondasinya amat kuat. Jadi nggak usah takut. Kita perlu concern tapi nggak usah khawatir berlebihan," tegas Purbaya.
.
Ia juga menanggapi pandangan pesimistis yang membandingkan kondisi saat ini dengan krisis 1998. Menurutnya, anggapan tersebut tidak didukung data yang akurat dan cenderung mengabaikan perbedaan kondisi ekonomi saat ini dengan masa lalu.

"Apalagi yang di luar bilang kita mau hancur, mau ini, mau kayak 1998, saya nggak ngerti itu. Mereka tidak punya data-data yang akurat. Mungkin 1998 juga sebagian belum pada lahir tuh, terus analisa. Tapi tidak lihat pada waktu itu apa yang terjadi di ekonomi kita," tutupnya.

Tonton juga video "5 Negara Penghasil Listrik Tenaga Surya Terbesar di Dunia"

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads