Kapal Maersk Berhasil Lewati Selat Hormuz Dikawal Militer AS

Kapal Maersk Berhasil Lewati Selat Hormuz Dikawal Militer AS

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 06 Mei 2026 08:49 WIB
Perusahaan minyak dan gas (migas) asal Prancis, Total, membeli bisnis migas milik Maersk, yaitu Maersk Oil, dengan harga US$ 7,45 miliar atau sekitar Rp 99 triliun.
Ilustrasi/Foto: Pool
Jakarta -

Perusahaan pelayaran dan logistik ternama Denmark, Maersk, mengumumkan salah satu kapal komersialnya berhasil melintasi Selat Hormuz di bawah perlindungan militer Amerika Serikat (AS). Hal ini sejalan dengan janji Presiden AS Donald Trump yang akan membantu kapal komersial 'terdampar' keluar dari selat itu.

Perusahaan menjelaskan kapal dengan nama Alliance Fairfax, kapal berbendera AS yang dioperasikan Farrell Lines selaku anak usaha Maersk Line, berhasil melintasi Selat Hormuz dan keluar dari Teluk Persia dengan semua anggota kru selamat dan tidak terluka pada Senin (4/5).

"Kapal itu telah terdampar di laut sejak perang yang dipimpin AS dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari," kata Maersk dalam keterangan resminya, dikutip dari CNBC, Rabu (6/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, Komando Pusat AS menyatakan bahwa dua kapal dagang berbendera AS telah berhasil melewati Selat Hormuz. Saat ini mereka juga sudah mengoperasikan kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut AS di sekitar wilayah selat tersebut untuk membantu pengamanan.

ADVERTISEMENT

Hal ini menjadi penting mengingat gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran dapat runtuh sewaktu-waktu, terlebih pada Selasa (5/5) kemarin saat drone dan rudal Iran menghantam Uni Emirat Arab, sementara Washington mengatakan telah menenggelamkan kapal-kapal Iran di selat tersebut.

Terkait hal ini Trump memperingatkan bahwa Iran akan 'lenyap dari muka bumi' jika mereka menargetkan kapal-kapal AS yang melindungi lalu lintas komersial melalui selat tersebut.

Sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa peristiwa di selat tersebut mencerminkan tidak ada solusi militer untuk krisis politik.

"Karena perundingan mengalami kemajuan berkat upaya baik Pakistan, AS harus waspada agar tidak terseret kembali ke dalam rawa oleh pihak-pihak yang berniat buruk. Begitu pula UEA. Proyek Kebebasan adalah Proyek Kebuntuan," kata Araghchi.

(igo/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads