Batik Ciwitan, Ikon Ekonomi Kreatif Desa BRILiaN Ciampea

Batik Ciwitan, Ikon Ekonomi Kreatif Desa BRILiaN Ciampea

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Kamis, 07 Mei 2026 06:30 WIB
Batik Ciwitan, Ikon Ekonomi Kreatif Desa BRILiaN Ciampea
Batik Ciwitan, Ikon Ekonomi Kreatif Desa Benteng Ciampea (Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom)
Bogor -

Setiap Selasa pagi di sudut Desa Benteng, Ciampea, Kabupaten Bogor, sekelompok ibu rumah tangga tampak sibuk, jemarinya mengikat dan menjahit kain. Mereka berkumpul sambil memproduksi Batik Ciwitan, sebuah produk wastra yang menjadi salah satu ikon ekonomi kreatif di desa tersebut.

Kelompok ini digagas oleh Eka Harijayanti, perempuan asal Bantul, Yogyakarta, yang kini tinggal bersama keluarga di Ciampea. Ia merintis usaha bernama Batik Ciwitan dan Eco Print Lawon Geulis sejak 2012.

"Nama Batik Ciwitan ini kami ambil dari Bahasa Sunda yaitu 'ciwit' karena bikinnya diciwit. Tapi teknik batiknya sendiri hasil perkawinan silang antara tradisi jumputan Jawa dan seni shibori asal Jepang," ujar Eka ditemui detikcom di Perumahan Asri Ciampea, Bogor, Rabu (28/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eka bercerita usaha ini awalnya dijalankan secara mandiri. Namun, mulai memberdayakan para ibu rumah tangga secara bertahap karena banyaknya pesanan pada tahun 2017-2019. Hingga kini, sudah ada 15 ibu rumah tangga yang ikut bergabung.

Dalam prosesnya, Eka biasanya akan membuat desain atau pola awal, kemudian lanjut dikerjakan oleh ibu-ibu di rumah masing-masing. Namun, tiga tahun terakhir mereka mulai rutin berkumpul untuk produksi bersama.

ADVERTISEMENT

"Sekarang kami punya jadwal yang teratur, Selasa untuk menjahit dan menyerut kain, Kamis belajar pola, dan Sabtu proses pewarnaan di sanggar," tuturnya.

Batik Ciwitan, Ikon Ekonomi Kreatif Desa Benteng CiampeaIbu rumah tangga rutin ikut pelatihan membatik (Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom)

Para ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok batik ini pun sangat cekatan. Mereka telah dilatih oleh Eka untuk jadi perajin batik, sehingga bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari rumah.

"Sebelumnya ibu-ibu ini suka jenuh nggak ada aktivitas, jadi daripada hanya sekadar di rumah tanpa tujuan, jadi mereka (belajar) batik di sini, sambil kumpul-kumpul, nonton drakor," candanya.

Lebih lanjut, Eka menuturkan motif Batik Ciwitan yang dibuatnya bersifat acak dan sangat bergantung suasana hati atau mood dirinya saat menggambar pola. Adapun pengerjaan satu helai kain ukuran 2,5 meter membutuhkan waktu yang terbilang panjang.

"Karena setiap kain ukuran 2,5 meter ini dikerjakan secara manual dan harus teliti. Satu kain ini bisa memakan waktu satu hingga tiga minggu pengerjaan, tergantung tingkat kerumitan pola atau desainnya," jelas Eka.

"Kemudian batik ini kami jual dengan harga kisaran Rp 200 ribu sampai Rp 750 ribu per lembarnya. Karena peminatnya memang kalangan khusus yang mencari keunikan dari batik," terangnya.

Batik Ciwitan, Ikon Ekonomi Kreatif Desa Benteng CiampeaBatik Ciwitan Berkembang Bersama Desa BRILiaN (Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom)

Berkembang Bersama Desa BRILiaN

Eka mengaku usaha Batik Ciwitan semakin berkembang sejak Desa Benteng bergabung menjadi Desa BRILiaN binaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Hal ini dikarenakan Batik Ciwitan sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan.

"Alhamdulillah, keberadaan kami makin diakui setelah Desa BRILiaN ini. Sanggar Batik kami kini jadi destinasi wajib jika ada kunjungan ke desa," tuturnya.

Sejauh ini, sanggar Batik Ciwitan rutin dikunjungi setiap tahunnya baik oleh wisatawan mancanegara maupun domestik. Mereka datang tidak hanya membeli produk tapi melihat langsung proses Batik Ciwitan seperti mengikat, menjahit, hingga pewarnaan.

"Ya. Mulai dari beberapa sekolah, instansi, terus waktu itu dari mahasiswa-mahasiswa luar negeri dari Peru, Jepang, Amerika. Mereka ke sini belajar Batik Ciwitan," ungkapnya.

"Jadi dalam sebulan, rata-rata dari kunjungan bisa terjual 10 sampai 20 kain," imbuhnya.

Ketua Unit Pengelola Desa Wisata Benteng Wahyu Syarief Hidayat menambahkan Batik Ciwitan Lawon Geulis ini merupakan satu dari sekian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) unit Desa Wisata Benteng.

Batik Ciwitan turut mendapat manfaat dana hibah Desa BRILiaN sebesar Rp 200 juta dari Rp 1 miliar yang diterima Desa Benteng pada 2023. Dana tersebut diberikan dalam bentu sarana dan prasarana sanggar untuk melengkapi kebutuhan membatik.

"Melalaui program Desa BRILiaN, mereka mendapat bantuan berupa alat dan bahan, seperti kain, canting, cap, dan meja. Selain itu, ada rak penyimpanan, bahan pewarna dan perlengkapan untuk batik lainnya," terangnya.

"Di sekitar area sanggar batik ini juga dibangun gapura kampung tematik, ini sebagai penanda bahwa binaan Desa BRILiaN," jelasnya.

Batik Ciwitan, Ikon Ekonomi Kreatif Desa Benteng CiampeaSanggar Batik Ciwitan Lawon Geulis (Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom)

Membangun Desa Secara Kreatif

Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengungkapkan program Desa BRILiaN ini mengacu pada sejumlah aspek Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Setidaknya ada empat fokus utama yang menjadi perhatian program Desa BRILiaN.

Pertama, penguatan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) dan/atau Koperasi Desa sebagai penggerak ekonomi lokal. Kedua, penerapan digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi operasional serta memperluas akses pasar produk desa.

Ketiga, penguatan aspek keberlanjutan (sustainability) untuk membangun desa yang tangguh dan berdaya saing. Keempat, pengembangan inovasi agar desa mampu tumbuh secara kreatif dan adaptif terhadap perubahan.

"Empat fokus utama itu menjadikan program Desa BRILiaN menjadi salah satu strategi utama pemberdayaan BRI untuk menggali dan mengembangkan potensi ekonomi di tingkat lokal," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Dalam perjalanannya, program Desa BRILiaN ini terus menjangkau semakin banyak desa di berbagai wilayah Indonesia. Tercatat sepanjang 2025, BRI telah membina lebih dari 5.200 Desa BRILiaN di seluruh Indonesia.

"Capaian ini mencerminkan konsistensi BRI dalam memperkuat peran desa sebagai basis pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mitra strategis pemerintah dalam mengimplementasikan agenda pembangunan yang berorientasi pada pemerataan dan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya

Lihat juga Video: Kolaborasi Prasasti Insight & Kementerian Ekraf: Ekonomi Kreatif sebagai Mesin Baru Pertumbuhan Nasional

(akd/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads