Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menilai para investor, baik asing maupun domestik masih percaya terhadap kondisi fiskal Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kinerja Surat Berharga Negara (SBN) tetap stabil di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Juda tidak menampik adanya kenaikan imbal hasil (yield) pada instrumen surat utang tersebut. Menurutnya, kenaikan tersebut merupakan hal yang wajar mengingat meningkatnya ketidakpastian global akibat tensi geopolitik dan perang.
"Kalau kita lihat kinerja pasar SBN sudah masih baik. Artinya, market masih percaya terhadap kondisi fiskal kita. Yield agak naik memang, tapi di Amerika juga naik. Ini kan US Treasury 10 tahun emang ada kenaikan. Sama itu karena dampak dari perang, uncertainty meningkat itu biasa," ujar Juda dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat (Rakorbangpus) RKP Tahun 2027 di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, Juga memberikan bukti bahwa Indonesia masih dipercaya investor. Jika kondisi fiskal Indonesia memburuk, maka yield SBN akan melonjak tajam secara drastis seperti yang terjadi pada periode krisis masa lalu.
"SBN valas 10 tahun, SBN rupiah 10 tahun, itu stabilizing kembali. Kalau yield itu masih bisa terjaga seperti ini, artinya apa? Artinya investor domestik maupun global masih percaya dengan kondisi fiskal kita," terang Juda.
"Kalau kondisi fiskalnya sudah jeblok tentu saja dia akan meningkat drastis seperti pada saat krisis-krisis di 2008, 2018 dan sebagainya. Tapi sekarang ini bisa terjaga dengan baik," tambah Juda.
Selain itu, ada indikator lain yang menunjukkan kepercayaan investor, yakni yield spread atau selisih imbal hasil SBN dengan US Treasury yang relatif tipis dibandingkan negara-negara emerging markets lainnya. Rendahnya spread ini menjadi sinyal kepercayaan market terhadap kondisi fiskal Indonesia masih terjaga.
"Dan kalau kita lihat di tabel sebelah kanan yield spread kita terhadap US Treasury itu juga relatif rendah, 237 dibandingkan negara-negara yang lain. Filipina, India, South Africa, Meksiko, apalagi Brazil. Kita masih bisa menjaga spread dan ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap fiskal kita masih cukup luas," imbuhnya.
Lihat juga Video Rosan Lapor Prabowo Indonesia Masih Jadi Primadona Investor Asing
(acd/acd)










































